TNI dan Polri: Simbol Kebangkitan Negeri

  • Whatsapp
TNI dan Polri: Simbol Kebangkitan Negeri

The Founding Fathers dan para ulama sama-sama sepakat (kalimatun sawa). Bahwa, Pancasila sebagai fondasi dan falsafah kehidupan berbangsa, dan bernegara. Pun setiap kehidupan negeri pernah mendapat ancaman, baik dari dalam negara maupun luar. Jenis ancaman yang beragam tentu menjadi tantangan berat bagi tentara nasional Indonesia (TNI), dan Polri.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, internet kian menjadi alat vital bagi kelompok-kelompok tertentu untuk merongrong wibawa negara. Pergolokan dan pertarungan ideologi transnasional mulai berlangsung panas di dunia maya. Kendati demikian, perang ini semata-mata menabur genderang perlawanan pada setiap negara yang telah terlibat.

Dalam sinopsis buku Ngasiman Djoyonegoro tentang (Soliditas & Sinergitas TNI-Polri dalam Rangka Menjaga Persatuan dan Keutuhan Bangsa: 2019) ia mengatakan, merebaknya ancaman mulai dari politik identitas, ujaran kebencian (hate speech), penyebaran berita palsu (hoax), tindak kekerasan dan anarkisme, terorisme, narkoba, penyelundupan, dan perdagangan ilegal.

Tentunya, ancaman ini menekan kekuatan politik negara supaya turun tangan membantu stabilitas politik di sektor keamanan, dan pertahanan. Keberadaan kelompok-kelompok transnasional bertube-tube datang merongrong Pancasila sebagai falsafah negara, dan tindakannya tak hanya mengganggu keutuhan bangsa, melainkan memogokkan kedaulatan tanah air ini.

Simon pun menegaskan, salah satu ancaman paling serius ketika banyak jenis kejahatan yang tidak hanya berskala nasional. Namun, sampai-sampai berskala internasional. Misalnya, invasi kelompok terorisme. Produk terorisme tercipta pasca munculnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), dan al-Qaeda. Pun jaringan itu telah bertumbuh di ASIA [40-41].

Ia menguak sejauh mana peta jaringan kelompok teroris yang masih tumbuh di kawasan Asia, serangkaian kejahatan berkelas internasional modus operandinya bisa beragam. Karena faktor ideologi agama, ketimpangan sosial, persaingan ekonomi, penyalahgunaan internet, serta organisasinya yang bertindak ekstrem semisal merongrong wibawa negara.

Kejahatan dalam bentuk apa pun termasuk peredaran narkoba, perdagangan ilegal, konflik antar negara, dan terorisme pada umumnya amat berbahaya. Karena itu, dapat berdampak buruk terhadap kemajuan negara dari pelbagai sisi, baik dari sisi kedaulatan, ekonomi, politik, dan hukum. Semua problem ini memerlukan sejumlah ikhtiar dan solusi demi negeri tercinta.

Tantangan TNI – Polri

Simon membahasakan TNI – Polri dalam dua institusi satu misi: Pertama, TNI fungsinya menjaga dinding pertahanan, dan kedaulatan negeri. Kedua, Polri fungsinya menjaga sistem keamanan wilayah [hal. 33]. Peran mereka saling berkesinambungan mengingat teori kolektif kolegial, artinya, setiap institusi menjalin kerja sama demi kepentingan bangsa, dan negara.

Selain tantangan TNI – Polri adalah bagaimana negara mampu bertahan dan aman meski menghadapi beragam ancaman. Namun, tantangan terbesar mereka adalah merajut komitmen persatuan untuk saling membangun soliditas, dan sinergitas anta lembaga dalam rangka menjaga keutuhan bangsa. Hal ini merupakan keteladanan yang masih krisis.

Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo lantas menegaskan, urgensinya soliditas, dan sinergitas antara TNI – Polri dalam menjaga NKRI. Dengan kekompakan mereka, maka pelbagai macam persoalan bangsa akan dapat teratasi dengan baik. Pernyataan tersebut berulang kali ia sampaikan secara terbuka dalam sejumlah kesempatan, dan dijalankan dengan program [hal. 124].

Indonesia tengah bekerja keras mengatasi Pandemi Covid-19, karena wabah tersebut menunjukkan ancaman serius bagi kebangkitan negeri. Sehingga, TNI – Polri dewasa ini ikut andil dan bersungguh-sungguh mengemban tugas negara dalam upaya meningkatkan keamanan dan pertahanan. Di mana melalui tugas inilah kedaulatan negara mampu tegak secara sempurna.

Kedaulatan negara tanpa mereka, maka tidak akan mungki. Dalam Undang-Undang Dasar (UUD) pasal 30 ayat (2) merumuskan, pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh tentara nasional Indonesia (TNI) dan kepolisian negara republik Indonesia (Polri), sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai pendukung.

Baru-baru ini, di era pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin jilid II. Yang awalnya Polri saja yang memiliki wewenang menangani ancaman terorisme, kini TNI mulai ingin dilibatkan juga dalam peraturan presiden terkait penanganan terorisme yang skalanya internasional. Tentu, ancaman atau serangan terorisme dengan skala demikian adalah yang datang dari luar negara.

Kepemimpinan Jokowi memang tampak menghendaki kerukunan mereka dalam menjaga stabilitas politik negara, ialah politik keamanan dan pertahanan. Dalam konteks politik hukum, kebijakan tentang pelibatan TNI tersebut merupakan langkah bersejarah, serta menjadi bukti awal komitmen negara, TNI, dan Polri dalam memikul amanah menjaga simbol persatuan.

Daulat Negara

Postur TNI – Polri secara konstitusional merupakan penegak senjata kedaulatan negara, dan mereka menjadi simbol kebangkitan NKRI ketika ancaman itu muncul atau pun tidak. Didukung moral, integritas, dan mental  sumber daya manusia (SDM) yang ada di institusi TNI – Polri, segala bentuk ancaman tidak akan mampu merongrong keamanan dan pertahanan.

Paling tidak, setiap bancana dan ancaman dapat diprediksi dan diatasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Intelijen Negara (BIN). Mereka memerlukan kekuatan TNI – Polri guna membangun persatuan yang solid, dan sinergis. Oleh karenanya, setiap kewenangan yang mereka miliki memang sangat kompleks dan dibutuhkan.

Simon juga mengatakan, penguatan penjagaan dengan kelengkapan alutsista dan teknologi yang mumpuni harus ditingkatkan tidak hanya pada wilayah-wilayah perbatasan yang rentan terhadap potensi konflik, melainkan juga di seluruh wilayah yang masuk dalam tertorial kedaulatan Indonesia. Penegakan tersebut perlu dukungan TNI – Polri, dan masyarakat [hal. 252].

Dukungan semua pihak sangat penting untuk menata masa depan keamanan, dan pertahanan. Kewapasdaan TNI – Polri dalam menjaga persatuan merupakan konstruksi tatanan untuk memberkan perlindungan pada negara tanpa mengenal batas dan waktu yang ditentukan. Untuk itu, optimisme, soliditas, dan sinergitas ini harus menjadi keyakinan bersama kedepannya.

Pada hemat penulis, jika TNI – Polri diibaratkan dengan manusia, maka TNI sebagai kepalanya, sedangkan Polri adalah badannya. Manusia hidup berbadan tanpa kepala, maka tidaklah mungkin. Oleh sebab itu, mereka saling menjaga kesimbangan, dan membentengi negara dengan sebuah pagar yang kuat yang semua orang atau kelompok tidak mampu menembusnya.

Judul Buku      : Soliditas & Sinergitas TNI Polri dalam Rangka Menjaga Persatuan dan Keutuhan Bangsa

Penulis             : Ngasiman Djoyonegoro

Penerbit           : Yayasan Insan Waskita Nusantara

Tahun Terbit    : 2019

ISBN               : 978-623-92118-0-6

Tebal               : XXVI + 288 Halaman

Oleh: Hasin Abdullah*

Peresensi, adalah Penggiat Gerakan Indonesia Optimis.

Pos terkait