Selamat Mengabdi Kapolri

  • Whatsapp
Selamat Mengabdi, Kapolri
Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Pergantian nahkoda kepemimpinan di tubuh kepolisian negara republik Indonesia (Kapolri) telah disepakati oleh semua fraksi di Komisi III DPR RI. Sembilan fraksi final memutuskan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo untuk menjadi Kapolri. Ada pun Parpolnya adalah PDI-Perjuangan, Golkar, Gerindra, Nasdem, PKB, Demokrat, PKS, PAN, dan PPP, Rabu (20/01/21).

Sebulanan, setelah presiden menunjuk calon tunggal hingga mengajukan nama calon Kapolri ke DPR RI. Mulai dari persiapan gelar uji kepatutan dan kelayakan (fiit and proper test) hingga DPR menggelar rapat paripurna untuk menetapkan Komjen Pol Listyo Sigit sebagai Kapolri terpilih. Semua hal itu berdasarkan penilaian atas prestasi dan pengalamannya.

Baca juga

Sejak ia menahkodai Kapolda Banten hingga di Bareskrim Polri pelbagai kalangan menilai di bawah kepemimpinannya lembaga penegak hukum tersebut mendapat respon positif, dan kembali memulihkan kepercayaan masyarakat. Selain itu, ia memiliki kedekatan emosional dengan para ulama. Pun tak sedikit kasus-kasus besar yang telah dibongkar.

Ragam kasus yang ditangani selama memimpin Bareskrim, ia terbilang sukses karena menangani sebanyak 485 perkara kasus korupsi, serta telah menyelamatkan uang negara sebesar Rp 310,8 Miliar di tahun 2020 hingga mengungkapkan 140 kasus penyebaran informasi palsu atau hoaks, yang berkaitan dengan pandemi Covid-19 di tahun 2020 (sumber: humas polri).

Jenderal dengan segudang prestasi tersebut menjadi harapan seluruh masyarakat di negeri ini. Pengalamannya sebagai konstruksi strategi untuk membenahi sumber daya manusia, instansi, dan struktur di tubuh kepolisian. Oleh karena itu, dalam menjaga stabilitas keamanan nasional butuh karakter kepemimpinan yang tegas, profesional, dan humanis.

Dalam konteks ini, kepemimpinannya tak dapat diragukan lagi terutama pengalaman Komjen Pol Sigit yang sangat sesuai amanah konstitusi di mana pasal 30 ayat (4) UUD 1945 menegaskan, kepolisian sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, dan menegakkan hukum.

Tantangan Masa Kini

Menurut Ngasiman Djoyonegoro dalam buku (Soliditas & Sinergitas TNI-Polri dalam Rangka Menjaga Persatuan dan Keutuhan Bangsa: 2019), ada pun tantangan Polri hari ini adalah bagaimana kita mampu menghadapi ancaman dari dalam negeri dan luar negeri. Di antaranya, politik identitas, penyebaran hoax, anarkisme, terorisme, narkoba, dll.

Semua persoalan itu kian masif menggerogoti hingga mengganggu stabilitas keamanan nasional. Pelbagai kasus yang menjadi ancaman tak dapat terbantahkan belakangan ini, apakah Polri hanya kokoh dalam diam tanpa harus bertindak tegas di tengah rumitnya menyelesaikan persoalan? Masalah demikian bukan lah tantangan baru bagi Komjen Sigit di masa mendatang.

Masalah yang muncul dewasa ini adalah marebaknya radikalisme di dunia maya, kelompok yang membenturkan agama dengan negara, kelompok yang kian mempersoalkan legalitas ideologi Pancasila, dan gangguan pada sistem keamanan nasional. Di sisi lain, penegakan hukum yang tak berbanding lurus, dan manajemen penyelesaian Covid-19 secara metodis.

Pandemi Covid-19 adalah hal paling krusial bagi Polri untuk menertibkan, dan melindungi masyarakat dari penyebaran virus corona. Karena itu, setiap masalah yang menjadi tugas lembaga penegak hukum perlu kesiapan Komjen Sigit sebagai nahkoda baru di tubuh Polri. Paling tidak, kesiapan tersebut dapat didukung oleh sumber daya personel kepolisian.

Pelbagai kasus tersebut tentu menjadi catatan bagi Kapolri baru untuk memimpin suksesnya lembaga ini ke depan. Tata kelolah keamanan nasional supaya normal memang membutuhkan peran Polri sebagai alat negara. Membangun koordinasi dan supervisi dengan instansi terkait merupakan amanah undang-undang, dan mengharmonisasikan hubungan Polri, serta KPK.

Untuk itu, Polri hadir menjadi lembaga yang selalu mampu memecahkan solusi negeri guna menjawab beragam tantangan dan persoalan. Tanda-tanda kesetiaan ini senada dengan pandangan Tito Karnavian (2016) mengatakan, itu lah doktrin yang sangat mendasar yang ada di hati setiap insan Bhayangkara, insan Polri yaitu setia kepada negara, dan pimpinannya.

Transformasi Polri

Komjen Pol Listyo Sigit final ditetapkan sebagai nahkoda yang akan memimpin institusi Polri ke depan. Masa depan normalisasi dan stabilitas keamanan nasional adalah tantangan yang harus diselesaikan oleh Kapolri. Kepemimpinannya menjadi harapan untuk mendorong suksesi transformasi Polri guna menangkal pelbagai macam ancaman yang datang.

Dari 16 program prioritas Kapolri, ia hendak menata institusi, merubah sistem dan metode organisasi, menjadikan SDM yang unggul, meningkatkan teknologi kepolisian modern, optimalisasi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, rekonstruksi penegakan hukum, dan peran Polri dalam penanganan Covid-19, dan pemulihan ekonomi nasional.

Di sektor penegakan hukum, Polri memiliki wewenang yang sangat kompleks mulai dari perlindungan hukum bagi masyarakat pencari keadilan. Penegakan hukum bidang pemberantasan korupsi, kolusi, nepotisme, narkoba, dan terorisme. Pada dasarnya, penegakan hukum merupakan kunci utama suksesnya Polri dalam mendorong institusi yang transformatif.

Misi penegakan hukum dengan pendekatan yang humanis tercermin pada adigium filsuf Romawi Kuno Marcus Tullius Cicero (1588-1679) “Salus suprema lex esto” yang bermakna keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Artinya, hukum sebagai strategi efektif dalam upaya menegakkan keadilan, melindungi masyarakat, dan memelihara keamanan.

Islam sendiri adalah agama yang meletakkan lima fondasi dalam bernegara, antara lain, memelihara keamanan atau kita kenal “al-himayah al-‘amniyah”. Keamanan merupakan tugas dari kepolisian negara republik Indonesia yang kini dinahkodai oleh Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo. Tranformasi di tubuh Polri setidaknya menjadikannya sebagai lembaga yang progresif.

Pesan Pramoedya Ananta Toer, ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada undang-undang, ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada, yaitu keadilan. Di bawah kepemimpinan Komjen Pol Listyo Sigit, Polri menjadi harapan masyarakat negeri ini melayani pencari keadilan. Karena keadilan adalah tiangnya kebenaran untuk menjaga keseimbangan (balancing).

Oleh: Hasin Abdullah*

Penulis, adalah Fungsionaris Gerakan Indonesia Optimis.

Pos terkait