Selamat Hari Guru: Berkreativitas di Tengah Kondisi Pandemi Covid 19

Selamat Hari Guru: Berkreativitas di Tengah Kondisi Pandemi Covid 19

Tiap tanggal 25 Nopember diperingati sebagai Hari Guru Nasional yang dirayakan bersamaan dengan ulang tahun PGRI. Tujuannya untuk memberikan penghargaan pada para guru yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Peringatan Hari Guru Nasional sendiri sudah dicetuskan sejak tahun 1994 dalam Kepres (Keputusan Presiden) No 78 tahun 1994. Ada juga tertulis dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.

Bagi saya, tujuan diperingatinya Hari Guru Nasional adalah untuk memberi dukungan kepada semua guru di Indonesia dan meyakini bahwa nasib bangsa Indonesia ke depan dipengaruhi oleh peran para guru.

Kita bisa melihat di fakta sejarah bagaimana para guru pada zaman pra kemerdekaan menanamkan jiwa patriotisme pada setiap anak didiknya di madrasah atau sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Jiwa patriotisme ini lah yang menjadi cikal bakal membaranya semangat para pemuda untuk terus berjuang menuju Indonesia merdeka.

Membela hak dan nasib buruh  itu  bersifat umum, akan tetapi untuk  guru pada khususnya. Melihat perjuangan para guru yang sejak awal sangatlah tidak mudah. Sebegitu besarnya pengorbanan dan pengabdian guru untuk Indonesia. Bukan hanya mendidik anak-anak bangsa, guru ternyata juga punya tugas menjaga kehormatan bangsa dan negara.

Jika sekarang Indonesia sudah lama merdeka, bukan berarti tugas guru menjadi ringan dan mudah. Tugas guru justru semakin berat untuk mempersiapkan anak-anak Indonesia sebagai penerus bangsa.

Pandemi Covid-19 telah telah menambah masalah dalam dunia pendidikan. Anak anak sejak akhir Maret 2020 diminta belajar dari rumah. Munculnya persoalan ini dibuktikan pendapat dari orang tua dan anak anak yang menyebut kejenuhan mulai dirasakan saat belajar dari rumah.

Saatnya guru berinovasi, kreatifitas guru  mulai dikembangkan di masa pandemi Covid-19 dalam pemberian tugas ke peserta didik. Jika sebelumnya sekolah adalah rumah kedua bagi anak, di tengah pandemi Covid-19 saat ini keadaan berbalik menjadi rumah sebagai sekolah untuk anak.

Berubahnya tempat belajar di rumah berbuntut ramainya chat komunitas para orang tua siswa. Tidak sedikit terjadi perubahan warna konteks obrolan yang ramai menceritakan tentang pengalaman para orang tua dalam mendampingi proses belajar mengajar (PBM) daring atau online anak-anaknya.

Para orang tua mau tidak mau harus dapat menjadi guru bagi anaknya dan memfungsikan rumah sebagai tempat anaknya belajar dan menuntut ilmu. Para orang tua juga mau tidak mau saling berbagi tips dan pengalaman cara mendidik, membimbing dan melatih anak serta menjadikan seisi rumah sebagai teman bagi anak layaknya di sekolah.

Banyak guru mencoba berinovasi dan mengembangkan kreativitas. ini merupakan sebuah bentuk bagaimana seorag guru melakukan hal yang relavan dengan keadaan siswa tetapi masuk dalam koridor pembelajaran. peningkatan mutu pendidikan tidak berpatokan pada bagaimana kebijakan Kementerian pendidikan dan Kebudayaan dilaksanakan di lapangan semata. pelaku pendidikan seperti guru juga berperan besar sebagai penentu kualitas pendidikan yang bagus. kecakapan guru dalam mengajar setidaknya berpegang pada keteranpilan 4C yaitu: Commnication (Komunikasi), Collaboration (Kolaborasi), Critical Thinking (berpikir kritis), dan Creativity (kreativitas).

Kita masih prihatin karena hingga kini, postur guru di negeri ini masih banyak yang gagap teknologi. Khususnya, teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Padahal, perkembangan TIK dan kemampuan mesin pencari lewat internet telah merevolusi tata kelola dan kebudayaan dunia. Serta mentransformasikan proses pendidikan begitu cepatnya. Mesin pencari juga sangat pemurah karena menyediakan sumber informasi yang tak terbatas sebagai bahan baku untuk berkreasi.

Eksistensi guru bagi suatu bangsa adalah kunci kemajuan. Bagi negara maju, guru adalah segalanya. Seperti dalam sikap pemimpin bangsa Jepang Kaisar Hirohito saat menghadapi kalah perang dan kehancuran bangsanya hingga di titik nadir. Untuk membangkitkan kembali bangsanya, Hirohito terlebih dahulu menata dan menghimpun para guru.

Tugas berat menantimu wahai para guru. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan seorang guru yang adalah manusia biasa, ijinkan di perayaan Hari Guru Nasional ini saya mengucapkan terima kasih dan doa setulus hati untuk semua guru yang ada.

Oleh: Gerardin Ferrari S.Sy

Penulis, adalah Guru Sekolah Mutiara dan Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Pos terkait