Santri Agribisnis (Catatan Hari Santri Di Tengah Pandemi)

Oleh: Siddiqurrohman

Sejak 2 Tahun belakangan, kita merayakan Hari Santri ditengah kabut virus yang berhasil mengurung kita dengan prahara Pandemi. Tentu, tetap harus di rayakan meski kita tak bisa main tebak sampai kapan. Atau bisa jadi, tetap kita rasakan aromanya dengan damai, mengikuti gaya hidup kebiasaan baru dengan sadar virus itu tak pernah hilang.

Bacaan Lainnya

Pandemi berhadap-hadapan langsung dengan ekonomi, berdampak dan terus bergerak. Sebagai santri juga tak bisa mengelak, tetap terdampak. Pilihannya, mau ikut tergeletak atau bangkit memawa iwak, eh membawa awak dan memberi dampak positif.

Bicara santri, yang pada umumnya berasal dari masyarakat sederhana di pedesaan/perkampungan. Dibesarkan di lingkungan sederhana yang banyak berkesibukan di sawah dan di pasar setempat. Singkatnya, dari keluarga menengah ke bawah.

Dan, umumnya lagi. Kebanyakan tujuan orang tua memondokkan anaknya agar pendidikan Agama maupun pendidikan Umum lebih meningkat dan bahkan dapat merubah (nasib) dari “pekerjaan” orang tua sebelumnya.

Alhasil, selama puluhan Tahun belakangan, kaum Santri tengah meniti perjalanan menuju profesi yang diinginkan tersebut. Ada juga yang telah menjalani apa yang sebelumnya hanya banyak di lakukan orang perkotaan, pengusaha kaya, dan juga kaum elit birokrasi di Negeri ini. Ya, tentu juga hal tersebut patut disyukuri.

Kembali ke awal pembicaraan receh malam ini diatas. Adakah hal lain yang perlu dilakukan untuk bangkit dimusim pandemi khususnya bagi alumni santri? Tentu perubahan gaya hidup dan tantangan ekonomi mendesak untuk kita jawab. Sekali lagi, kita tidak tau kapan pamdemi akan berakhir bukan?

Hemat kata, alumni Santri yang sudah balik kampung perlu mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan, produktifitas pertanian dan pengembangan UMKM. Sedang, yang sudah beraktifitas diluar jangkauan udara pedesaan perlu bertahan, meningkatkan kreativitas daya saing kinerja, usaha, pengetahuan dan jejaringnya. Tak lupa mulai bersinergi dengan yang ada di level bawahnya, kabupaten, desa, sampai di tingkat RT. Kesemuanya diperlukan peran penting pengasuh untuk mengawasi dan mengawasinya.

Hal termudah untuk mengawalinya apa? Hemat saya dengan mengadaptasikan teknologi dan digitalisasi sistem sebagai solusi. Jika tak sanggup membeli alat teknologi menggarap pertanian dan peternakan bisa cukup mempelajari model lain dengan ide2 kreatif di YouTube yang lebih sederhana. Dan, jika tak cukup modal membuka lapak jualan berbentuk bangunan di lokasi strategis bisa membuka toko online di marketplace seperti shopee, Tokopedia dll. Atau kerjasama dengan pegiat UMKM untuk memasarkan produknya dipasar online. Cukup mudah bukan?

Karena, berkaca sedari dulu kita hanya selalu menjadi pintu masuk mengambil bahan konsumsi lalu menjadi pintu masuk produk jadi untuk dikonsumsi tanpa ada kesempatan untuk buka pintu keluar dengan hasil produksi sendiri.

Sekitar berjalan satu tahun lebih ini saya mencoba beranikan diri belajar di usaha online, yang cukup mudah dilakukan sembari saya bekerja di salah satu BUMD di Sumenep. Ya Alhamdulillah hasilnya cukup mengagetkan. Sedikit demi sedikit usaha berjalan lancar, beberapa UMKM juga merasa “terbantu” penjualannya lebih gencar.

Kebiasaan “di rumah saja” benar-benar membuka peluang bagi pelapak online. Jadi, jika dulu ada semboyan masyarakat yang hanya sukses dikasur hanya pelacur, sekarang nambah pelapak Online. Satu kunci rahasia yang tidak dirahasiakan, setiap ada kebiasaan baru disitu ada peluang besar keuntungan baru.

Selamat hari Santri ya teman-teman. Insyaallah kita bisa mewujudkan semua mimpi karena sudah terbiasa mandiri dan mengayuh doa-doa kepada sang Ilahi. Amin.

Pos terkait