Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh

Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh

Sampai awal November 2020 ini, sejak diumumkan pertama tanggal 2 Maret 2020 silam, laju pertambahan harian kasus Covid-19 di Indonesia masih tergolong tinggi. Laju pertambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 tersebut dalam bidang pendidikan menjadi dasar pemerintah terus melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara daring di semua jenjang pendidikan. Sesuai dengan himbauan pemerintah melalui Kemendikbud  bahwa yang boleh membuka tatap muka adalah zona hijau dan oranye. Dalam kondisi yang tidak boleh membuka tatap muka para guru, siswa, dosen dan mahasiswa dipaksa untuk belajar secara terpisah di tempat masing-masing dengan memanfaatkan beragam produk teknologi informasi serta peralatan pendukungnya.

Meski satu hal yang baru untuk dilaksanakan secara masif dalam skala nasional, namun pembelajaran jarak jauh secara daring yang terus-menerus menimbulkan berbagai masalah baru baik bagi pendidik maupun peserta didik. Paling tidak terjadi kebosanan karena masing-masing tidak bisa berinteraksi secara langsung sampai munculnya kasus-kasus depresi, kekerasan orang tua pada anak, bahkan ada siswa yang bunuh diri karena tidak tahan dengan kondisi pembelajaran daring yang kurang mendukung dan dirasa membebani.

Kondisi itu ditambah dengan berbagai kendala yang dihadapi seperti susah sinyal, internet lambat, bahkan masih banyak daerah yang belum terjangkau jaringan internet sehingga para siswa harus mencari tempat-tempat yang punya jaringan internet bagus. Perangkat pembelajaran juga  menjadi masalah karena tidak semua orang tua punya kemampuan untuk membeli handphone atau bahkan laptop yang bisa dipakai untuk pembelajaran jarak jauh (PPJ)

Tantangan yang didapatkan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini adalah: Pertama, tantangan pertama dalah kondisi psikologi anak. Perubahan lingkungan belajar akan berdampak masalah pada psikologis anak. Khususnya, pada kondisi rumah yang tidak membuat sang anak nyaman dalam belajar. Kedua, tantangan kedua adalah peran orang tua atau wali siswa. Orang tua mesti memantau perkembangan belajar siswa lewat komunikasi dengan guru. Pembelajaran yang diberikan guru mesti dilanjutkan oleh orang tua dengan pelatihan kompetensinya.

Ketiga, tantangan ketiga adalah kompetensi guru dalam menjalankan sistem pembelajaran jarak jauh. Kompetensi dalam pembelajaran jarak jauh ini mengharuskan penguasaan teknologi informasi, tapi menghadirkan kenyamanan dan kebahagiaan pada anak dalam kegiatan belajar. Keempat, tantangan keempat adalah fasilitas penunjang. Sistem PJJ mengharuskan siswa menyediakan perangkat elektronik seperti ponsel atau komputer, sekaligus kuota internet yang memadai.

Kelima, tantangan kelima adalah penyusunan kurikulum. Kebingungan guru soal menyusun kurikulum belajar siswa tanpa harus dilakukan secara tatap muka. Belum siapnya sekolah dan guru dalam menyiapkan kurikulum yang khusus pada pembelajaran jarak jauh. Keenam, tantangan keenam adalah pengaturan jam belajar yang tepat. Dalam kenyataanya belum tentu semua siswa memiliki perangkat elektronik pribadi yang bisa digunakan belajar kapanpun. Oleh sebab itu, guru mesti bisa memahami keadaan para siswanya dalam mengatur jam belajar.

Oleh: Awaludin, S.Pd

Penulis, adalah Kepala Sekola SMPIT Permata Madani.

Pos terkait