Objektive Attitude dalam Menyikapi Pemimpin

Objektive Attitude dalam Menyikapi Pemimpin

Imam al-Baidlawi sebagaimana dikutip oleh Syaikh Wahbah al-Zuhailiy (1991: 212) dalam Al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj yang diterbitkan oleh  Dar al-Fikr al-Mu’asir Beirut Juz 14 menegaskan bahwa sikap adil (objective attitude) adalah bersifat moderat dalam segala hal, termasuk menghadapi pemimpin.

Di era informasi, beberapa warga negara tidak santun berkata sehingga sulit mengawasi lisannya dalam menyikapi pemimpin, misalnya pemilik akun Alibaharsyah007 ditangkap polisi karena menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19)sebagaimana dilansir oleh  nasional.kompas.com/2020/04/06/. Selain itu  seorang pria di Cianjur ditangkap polisi karena diduga menghina Presiden Jokowi di media sosial dalam https://kupang.tribunnews.com/2020/05/30/. Buruh di Kepulauan Riau ditangkap diduga menghina Presiden Jokowi soal Covid-19 sebagaimana dalam https://www.cnnindonesia.com/nasional/2020/04/08/.

Presiden Jokowi sebagaimana dilansir dalam https://news.detik.com/berita/d-4696655/jokowi-katanya-kritik-tapi-tak-bisa-bedakan-dengan-menghina, bahwa mengkritik tentu berbeda dengan menghina. Mengkritik tentu berbeda dengan  mencela, para pengkritik tidak hanya senang mengkritik tapi juga dapat memberikan apresiasi terhadap kesuksesan pemerintah dalam memimpin bangsa dan negara.

Adakah Koalisi dan Oposisi?

Muslim adil tentu akan memiliki prinsip dalam urusan dengan pemimpin bahwa “mendukung bukan berarti koalisi, sementara mengkritik bukan berarti oposisi.” Ia akan memberikan dukungan dan penghargaan terhadap semua program kerja pemerintah jika sesuai dengan aspirasi dan inspirasi masyarakat. Namun di sisi lain, ia akan memberikan kritikan jika ingkar janji selama kampanye dan tidak berusaha untuk memenuhi gagasan dan cita-cita masyarakat.

Sikap adil seseorang akan rapuh ketika mendukung karena koalisi, sehingga setiap tindakan pemerintah akan dianggap baik walaupun tidak sesuai dengan akal dan hati masyarakat. Demikan juga mengkritik karena oposisi, maka akan terus memberikan kritikan walaupun semua program kerja pemimpin sudah rasional dan dibutuhkan oleh rakyat.

Omar Javaid and Mehboob ul Hassan (2013: 8) dalam A Comparison of Islamic and Capitalist Conception of Economic Justice yang diterbitkan oleh International Journal of Economics, Management and Accounting bahwa melanggar hukum agama akan berdampak kepada ketidakadilan kepada umat manusia. Dengan demikian, jika seseorang memiliki kesalehan individual, maka akan berdampak terhadap kesalehan sosial termasuk berlaku adil terhadap orang lain terutama kepada pemerintah.

Mengkritik dan Mencela, Apakah Sama?

Mengkritik tentu berbeda dengan mencela, baik dari segi cara maupun materi. Dari segi cara, mengkritik tentu dilakukan dengan ekspresi wajah yang teduh dan menenangkan, nada bicara rendah dan santun serta pilihan kata yang menyenangkan. Hal ini tentu berbeda dengan mencela, kemungkinan akan berwajah menyeramkan, nada bicara tidak enak didengar oleh telinga dan tentu bebas dalam menggunakan diksi.

Dari segi materi, mengkritik lebih mendahulukan solusi, daripada hanya memperuncing masalah. Baginya, jalan keluar jauh lebih dibutuhkan, karena pemimpin adalah manusia yang juga memiliki kekurangan.  Sementara mencela hanya akan mempertajam masalah, bahkan merendahkan kekurangan individu dari pemimpin. Wajar saja, mencela tidak memiliki ide, hanya dengan modal hati yang rusak dan tidak memiliki jalan keluar.

Menurut Presiden Jokowi sebagaimana dilansir dalam regional.kompas.com/read/2018/04/14/ bahwa mengkritik tentu menggunakan data dan solusi, sementara mencela tentu bebas dari keduanya. Namun di sisi lain, penulis lebih senang dengan istilah saran daripada kritik, karena saran memiliki makna bahwa setiap nasehat boleh diterima atau tidak. Sementara kritik seolah-olah lebih dekat bahwa setiap masukan harus diterima. Namun lagi-lagi, bahwa kritik tentu jauh berbeda dengan mencela. Wallaahu A’lam.

Oleh: Samsuriyanto

Penulis, Dosen Studi Islam pada International Undergraduate Program, ITS Surabaya.

Pos terkait