Nasionalisme Gus Mus Melalui ‘Example Attitude’ di Era Pandemi

Nasionalisme Gus Mus Melalui 'Example Attitude' di Era Pandemi

Mohammad Amin Abd. al Aziz (1999:115) dalam al-Da’wah Qawa’id wa Ushul yang diterbitkan oleh Dar al-Dakwah Kairo menegaskan bahwa salah satu prinsip dalam berdakwah adalah memberikan sikap keteladanan (example attitude) sebelum menyampaikan pesan-pesan Islam  (al-qudwah qabl al-da’wah). Ulama sebagai pendakwah adalah teladan (Islamic preacher as a model), sehingga semua ucapan, sikap dan tindakan selalu dilihat bahkan ditiru oleh umat sebagai mitra dakwah.

Di Indonesia, banyak ulama yang memiliki jiwa nasionalisme, salah satunya adalah Dr (HC). KH. Ahmad Mustofa Bisri. Ulama yang akrab dipanggil Gus Mus ini lahir di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 10 Agustus 1944, demikian dalam buku Islam Nusantara; Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan dengan editor Akhmad Sahal dan Munawir Aziz (2016: 434).

Scientific Genealogy dan Nasionalisme

Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan (2014: 252) dalam Antologi NU Buku II; Sejarah – Istilah – Uswah bercerita bahwa sejak kecil, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2014-2015 ini memperoleh pendidikan dari ayahnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatut Thalibin Rembang. Pagi hari di Sekolah Rakyat (SR), sementara di sore hari di Madrasah Nawawiyah Rembang.

Tahun 1957, ayah tujuh anak ini melanjutkan ke Ponpes Lirboyo Kediri untuk menimba ilmu kepada ulama yang nasionalis, KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly. Dua tahun berikutnya, pindah ke Ponpes al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta untuk belajar kepada KH. Ali Maksum selama tiga tahun.  Lalu kembali ke kediamannya dan belajar dengan menekuni kitab-kitab klasik kepada ayahandanya.

Penulis buku Saleh Ritual Saleh Sosial ini menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar Kairo Mesir pada jurusan Studi Islam dan Bahasa Arab yang masuk pada 1964 dan lulus pada 1979, demikian kisah yang ditulis oleh Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan (2014:254). Nasionalisme Gus Mus tidak diragukan lagi, karena memang memiliki silsilah keilmuan (scientific genealogy) dari para ulama Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah (ASWAJA).

Hingga sekarang, lembaga pendidikan yang pernah mendidik Gus Mus, baik Ponpes Rembang, Ponpes Lirboyo, Ponpes Krapyak dan al-Azhar masih terus menanamkan semangat cinta tanah air kepada masyarakat dan umat Islam serta sebagai benteng dari paham radikal dan intoleran.

Sikap Teladan di Era Pandemi

Penulis Pahlawan dan Tikus – Kumpulan Puisi tahun 1994 ini memberikan keteladanan dengan menggunakan masker sebagai bukti cinta kepada tanah air. Mematuhi protokol kesehatan termasuk menggunakan masker adalah cara untuk memutus transmisi pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Jika kesehatan suatu negara bagus, maka ekonomi juga efektif, sehingga berdampak pada keamanan negara yang stabil (stable state security). Menggunakan masker sama saja telah memiliki jiwa nasionalisme, yaitu ikut andil dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Pada 26 Mei 2020 melalui Instagram @s.kakung, Gus Mus mengunggah foto menggunakan masker dengan tulisan “Aku menyayangi dan menghormatimu, maka aku memakai masker. Mari kita galakkan Gerakan Memakai Masker” Lalu ada caption “Kalau memang terpaksa sekali harus keluar rumah, jangan lupa memakai masker dan tetap menjaga jarak. Marilah kita hargai orang lain dan diri kita sendiri. Semoga Allah segera mencabut wabah Corona yang membuat kita tidak nyaman ini dan menurunkan kembali rahmatNya kepada kita semua. Amin.”

Tanggal 8 Juni 2020, Gus Mus kembali mengunggah foto dengan kopiah putih, masker hitam dan kaos merah yang diiringi tulisan “Lindungi Kamu dan Aku. Memakai masker dengan cara yang benar yakni menutup hidung dan mulut menurunkan risiko tertular dan menularkan virus Covid-19 hingga 75%. Gerakan Pakai Masker.” Penulis Mutiara-mutiara Benjol ini menambahkan caption “Mentaati perintah Allah untuk ikhtiar bagi kebaikan bersama, aku memakai dan mengajak Anda memakai masker. Semoga Allah dengan rahmatNya segera mengangkat wabah Corona dan wabah-wabah yang lain dari muka bumi. Āmin.”

Pada tanggal 3 Agustus 2020, ulama yang pandai melukis ini kembali mengunggah foto lalu diberikan caption “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi. Semoga kalian semua sehat wal afiat lahir dan batin. Tetap semangat. Semoga Pandemi segera pergi. Keterangan gambar: Berangkat JJS bersama anak cucu. Cucuku Malik pun tak lupa dengan maskernya.”

Gus Mus, ulama meneduhkan, berwawasan luas, rendah hati dan pengasuh Ponpes tetap menggunakan masker saat keluar rumah, sehingga masyarakat bisa meniru. Keteladanan ulama amat dibutuhkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang menyerang saluran pernapasan ini dengan menggunakan dan mengajak masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan termasuk menggunakan masker.

Jika masyarakat sehat, maka akan semangat untuk bekerja (passion for work) sehingga keuangan akan stabil.  Jika keluarga sejahtera, maka akan bebas dari mencuri milik orang lain. Penjarahan hanya akan membuat negara akan gaduh dan tidak aman. Masyarakat minimal menggunakan masker, sama saja telah menciptakan keamanan bangsa, sebagai bukti memiliki jiwa nasionalisme. Wallaahu A’lam.

Oleh: Samsuriyanto

Penulis, Dosen Studi Islam pada International Undergraduate Program, ITS Surabaya.

Pos terkait