Menumbuhkan Literasi Keagamaan

Menumbuhkan Literasi Keagamaan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat kita memiliki tingkat minat baca yang rendah. Tentu ini bukan omong kosong belaka. Hasil laporan Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan indeks literasi membaca kita hanya naik satu poin, dari 396 pada 2012 menjadi 397 pada laporan 2015.

Selain itu, data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2016, di lingkup dunia ada sekitar 263 juta anak putus sekolah yang minim kemampuan literasi dasar. Dari lanskap global, indeks literasi warga Indonesia berada pada anak tangga bawah. Data statistik dari UNESCO, Indonesia berada di peringkat 60 dari total 61 negara, yang berada dalam indeks literasi internasional. Negeri ini berada pada tingkat literasi rendah, di bawah peringkat negara-negara Asia Tenggara dan satu peringkat di atas Botswana.

Dengan kondisi demikian, tidak heran jika masyarakat kita mudah sekali terpancing dengan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya (hoaks). Menghasilkan perdebatan tanpa henti bahkan menyentuh diskursus tentang keagamaan. Dalam beberapa tahun terakhir, agama seringkali dijadikan medan kontestasi isu serta pertempuran melawan narasi keindonesiaan.

Survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dipublikasi pada akhir 2017 mengungkap alarm bagi kebhinekaan dan keindonesiaan kita. Survei ini merilis narasi kebencian yang demikian bergelombang dalam denyut nadi. Peneliti PPIM mewawancara guru PAI (Pendidikan Agama Islam), dosen PAI, siswa serta mahasiswa di seluruh Indonesia. Survei ini melibatkan 2181 responden dari 35 provinsi, 68 kabupaten/kota, terdiri dari 264 guru, 58 dosen, 1522 siswa dan 337 mahasiswa.

Dari survei ini, teknologi digital dan media sosial menjadi instrumen penting persebaran informasi. Sebanyak 54,87 persen generasi milenial mengakui bahwa sumber pengetahuan agama mereka dari internet dan media sosial. Pendidikan agama, tidak hanya bersumber dari pendidikan formal di sekolah dan universitas, namun juga dari ustaz-ulama yang memiliki akun interaktif di media sosial.

Narasi yang terbangun dalam lanskap keagamaan, terungkap betapa kebencian tersebar tanpa didasari pemahaman komprehensif atas liyan. Sebanyak 64,66 persen guru dan dosen memandang Ahmadiyah sebagai aliran Islam yang dibenci. Sementara, Syiah berada pada peringkat kedua sebagai aliran yang tidak disukai, pada skor 55,6 persen. Pada sisi lain, 44,72 persen guru dan dosen tidak setuju jika pemerintah melindungi Syiah dan Ahmadiyah.

Pada lingkaran siswa dan mahasiswa, pendidikan agama menjadi pintu masuk memahami keragaman dan cara pandang mereka terhadapa perbedaan. Ironisnya, sebanyak 48,95 persen responden menyebut bahwa pendidikan agama mempengaruhi mereka untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Sementara, 58,5 persen responden siswa dan mahasiswa memiliki cara pandang keagamaan yang radikal.

Data ini menunjukkan gejala serius yang tidak bisa dianggap remeh. Setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, kita mundur beberapa langkah dalam konteks literasi keagamaan yaitu berupa ketidaksanggupan memahami perbedaan.
Islam bagi mereka para penjustifikasi, Islam atau tidaknya orang lain adalah Islam harus sesuai standar yang mereka anut. Islam yang text minded berputar disekitar dalil naqli seraya menginjak-injak akal dan nalar jika itu dianggap bertentangan dengan teks-teks suci yang mereka anut dan mereka tafsirkan secara dangkal.

Islam bagi mereka adalah Islam yang marah, ngamukan dan tersulut sumbunya bila disenggol, semakin pendek sumbunya maka dianggap semakin besar ghirah (semangat) jihadnya. Mereka tidak pernah mau tahu dengan moderatisme dan toleransi, karena bagi mereka bersikap toleran dan menjunjung pluralitas adalah liberal dan penghianatan pada kaffahnya beragama. Semakin fanatik maka semakin kaffah, semakin ashobiyah (fanatik buta) semakin dianggap membela agama.

Sehingga siapapun yang berislam dengan penafsiran sesuai dengan mereka adalah pengikut Qur’an dan Sunnah. Sementara yang berbeda dari apa yang mereka dan para ulama mereka anut adalah kaum ingkar sunnah, dan tempatnya pasti neraka. Sungguh betapa mengerikannya pemahaman seperti ini.

Oleh karena itu, kita perlu oksigen penyegaran dari literasi keagamaan yang menghargai kebhinekaan, memandang perbedaan perbedaan (khilafiyah) sebagai rahmah. Kita membutuhkan penyegaran literasi keagamaan yang mencakup literasi keindonesiaan di dalamnya.

Oleh: Novy Eko Permono

Penulis, Pemerhati Pendidikan dan Keagamaan

Pos terkait