Kesaktian Pancasila, Moralitas Kepemimpinan dan Jiwa Kesatria Ketua DPRD

Kesaktian Pancasila, Moralitas Kepemimpinan dan Jiwa Kesatria Ketua DPRD

Oleh: Ahmad Zairudin

Pancasila merupakan pribadi bangsa Indonesia yang tercermin dalam jiwa dan perilaku para pemimpin dan seluruh anak bangsa Indonesia. Pancasila itu sakral, sakti dan Jimat dalam mempersatukan seluruh tumpah darah indonesia. Hal inilah yang mungkin di hayati, diyakini dan amini oleh Anang akhmad Syaifudin ketua DPRD kabupaten Lumajang yang mengundurkan diri karena salah dalam melafalkan Pancasila, sila ke empat ketika menerima demonstran yang menolak kenaikan harga BBM. Sahabat Anang berhati kesatria dan penuh tanggung jawab dalam kepemimpinannya, bukan hanya meminta maaf atas kekhilafan dan kesalahannya tersebut, tapi dengan penuh rasa tanggung jawab dan berani menyatakan mengundurkan dari dari jabatannya, melepas jabatan ketua DPRD kabupaten Lumajang periode 2019 – 2024.

Bacaan Lainnya

Untuk membayar kekhilafan sahabat Anang tersebut, pada moment rapat pembahasan  Raperda, Bupati Lumajang Thoriqul Haq membacakan lima Butir Pancasila yang di ikuti oleh seluruh anggota DPRD Lumajang dan Undangan yang hadir Yang berbunyi: (1) Ketuhanan Yang Maha Esa. (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. (3) Persatuan Indonesia. (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan. dan (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita semua telah membayar atas kesalahan, ke khilafan,  yang tentu tidak di sengaja oleh sahabat Anang Akhmad Syafudin, tegasnya.

Jiwa besar yang di tunjukan oleh kedua tokoh Lumajang diatas adalah bentuk kepemimpinan negara yang mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan harus ditiru dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut ke dalam fungsi dan perannya sebagai seorang pemimpin. Walaupun bukan sebuah pelanggaran hukum namun moral, jiwa kesatria dan  nilai-nilai luhur yang di contohkan oleh saudara Anang Akhmad Syaifudin merupakan suatu proses kenegaraan menuju “Nation and Character Building”

Dewasa ini jarang sekali kita temukan sosok pemimpin atau pejabat publik yang dengan rela hati mengakui jika melakukan sebuah kesalahan dan khilafan di depan publik, apalagi sampai berani mengundurkan atau menanggalkan jabatannya, tidak jarang para kepemimpinan kita melakukan pembelaan sedemikian rupa untuk menutupi kesalahannya. Tentu pemimpin-pemimpin seperti ini bukanlah pemimpin yang pancasilais.  Kepemimpinan Pancasila itu harus bisa bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai  yang ada dalam Pancasila.

Dalam sebuah research yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting SMRC tentang Pancasila , Saiful Mujani, itu menunjukkan sebanyak 64,6 persen warga yang bisa menyebutkan dengan benar semua sila dalam Pancasila. Ada 10,2 persen yang benar menyebutkan 4 sila, 5,1 persen tiga sila, 3,9 persen dua dan satu sila, dan masih ada 12,3 persen publik yang tidak bisa menyebutkan dengan benar satu pun sila. ada 95,4 persen warga yang tahu Pancasila. Dan yang bisa menyebut dengan benar hanya antara 72,5 persen – 86,2 persen,”.

Sedangkan, yang paling banyak disebut dengan benar adalah sila pertama, (86,2 persen), selanjutnya sila Ketiga, (78,3 persen), sila kedua, (77,8 persen), sila kelima, (76,1 persen), dan yang terakhir sila keempat ‘Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan’ (72,5 persen). Artinya bahwa, memanhg sila ke4 merupakan sila yang paling sulit di hafal. Dalam reseach ini, pengetahuan dasar publik tentang Pancasila (64,6%) hanya sedang.

Kepemimpinan, Moralitas dalam Pancasila

Pancasila merupakan falsafah bangsa Indonesia, nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila menjadi pedoman dalam segala segi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila menjadi parameter tingkah laku pemerintah, pemimpin bangsa dan seluruh masyarakat indonesia. Nilai-nila yang tertanam dalam pancasila harus terus ditingkatkan dalam diri setiap pemimpin dan anak bangsa guna terwujudnya tiga prinsip. Pertama, clean goverment, pemimpin harus memiliki karakter kuat, baik, bersih berani dalam hal kebenaran. Kedua, good govermence,  pemimpin yang baik harus memiliki Moralitas dan akuntabilitas secara individu dan Institusional. Ketiga, mission accomplished, (Pencapaian tujuan) seorang pemimpin harus memegang teguh tugas, wewenang dan tanggung jawabnya sesuai sumpah jabatan yang diucapkan.

Menurut Hakim, kepemimpinan berbasis Pancasila tidak akan dapat terlepas dari bangunan konseptual kelima sila yang ada didalamnya. Dicontohkan bagaimana sila pertama ketuhanan yang maha esa ditempatkan sebagai dasar moralitas, dimana pemimpin dimaksud harus pemimpin yang ber Tuhan, bermoral dan penuh tanggung jawab dalam menjalan setiap tugas yang di emban dan segala sisi kehidupannya. Sedangkan Menurut Wahjosumidjo bahwa seorang pemimpin itu memiliki kecerdasan, penuh rasa tanggung jawab, sehat dengan sifat-sifat Dewasa dan kerja kemanusiaan.

Terjadinya fenomena degradasi kepemimpinan bisa saja salah satunya adalah kurangnya penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai pancasila. Pancasila yang seharusnya di implementasikan sebagai landasan pemikiran Intrumental Input dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seakan tidak mempunyai Value (nilai)

Seorang pemimpin yang berpenghayatan serta mengamalkan Pancasila akan membawa suatu kemajuan dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan rasa toleransi, kebersamaan, kekeluargaan, kesejahteraan, kerukunan, keadilan serta mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi dengan penuh rasa tanggung jawab. Kepemimpinan Pancasila diharapkan dapat tumbuh dalam relung para pemimpin kita. Tantangan pemimpin negeri ini kedepannya adalah untuk menjadikan bangsa Indonesia lebih baik, berdaya saing, maju dan sejahtera.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai budaya bangsa dan diyakini kebenarannya. Pancasila digali dari budaya bangsa sendiri, tumbuh, dan berkembang sejak lama. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa Indonesia wajib mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila, mengayati, mengamalkan ajaran-ajarannya, bukan hanya menghafalkan bait-baitnya yang bisa setiap saat dilupakan. Pancasila cerminan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Saya mencoba untuk menyimpulkan bahwa Sahabat Anang Akhmad Syaifudin tentu sadar bahwa Pancasila merupakan salah satu sumber moralitas dalam berbangsa dan bernegara, terutama dalam hubungannya dengan legitimasi kekuasaan. Hukum serta berbagai kebijakan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, dalam hal ini ada kaitanya antara nilai, norma dan moral serta rasa tanggung jawab. Dia sadar ada beban moral yang begitu berat dipundaknya yang harus dipikul sebagai seorang pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Lumajang. Sehingga dengan kesalahan melafalkan pancasila tersebut berujung dengan pengunduran dirinya. Kita masyarakat tentu rindu sosok pemimpin kesatria dan penuh tanggung jawab seperti beliau dalam menjalankan dan mengemban amanahnya.

Penulis, adalah Dosen Hukum Tatanegara, Unversitas Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Direktur Eksekutif Forum Kajian Konstitusi, Pancasila dan Demokrasi (FORKAPSI).

Pos terkait