Nasib FPI di Tangan Jokowi

Nasib FPI di Tangan Jokowi

Sejak pulangnya pemimpin FPI MRS ke Indonesia, drama perpolitikan kembali hangat-hangat sedap. Pandemi telah menakdirkan MRS pulang ke petamburan pasca menepi di Saudi Arabia. Dalam adegan kepulangannya, dipertontonkan bak sosok hero seperti dalam film produksi Hollywood. Tak berlebih, kepulangannya membawa oleh-oleh “Revolusi Akhlak” seakan tengah membayang-bayangkan dirinya layaknya Imam Khomeini, Iran, untuk merevolusi negerinya yang kini dinahkodai Jokowi. Bagi pemuja MRS, kepulangannya disambut bak “Imam Mahdi” yang tengah di tunggu-tunggu untuk memperbaiki fitnah akhir zaman.

Pada kesekian ratus kalinya, punggung Jokowi, selalu tersemat label yang mengaduk-aduk emosi publik; seperti PKI, Antek Asing-Aseng, Presiden Goblok-sebuah pembentukan opini publik dengan target Jokowi lengser sebelum 2024 nanti. Yang itu sesunguhnya sudah dimulai sejak Pilpres 2014 silam. Pikir mereka, provokasi ini dapat meraup suara rakyat untuk membawa mimpinya  menggulingkan pemerintahan Presiden Jokowi terwujud dan “NKRI Bersyariah” bisa menahkodai Indonesia. 

Bacaan Lainnya

Mulanya, untuk menundukkan MRS dan FPI-nya, butuh kehati-hatian. Sebab fakta membuktikan, bahwa FPI memiliki riwayat panjang yang dengan massa yang banyak pula. Apalagi Negara dalam satu dasawarsa membiarkan kelompok islam politik, termasuk FPI berkembang-sebagai alat legitimasi kuasa Cikeas (SBY). Artinya apa, bahwa populisme islam yang dibawa FPI dalam waktu tertentu adalah mesin politik untuk mendulang suara dan melegitimasi kekuasaan. FPI adalah wanita cantik oleh bohir-bohir politik di senjakala waktu demi memuaskan libido politiknya saja. 

Tapi Jokowi tak tinggal diam. Negara NKRI tidak boleh dicampur-aduk oleh ideologi-ideologi lain. Pancasila final dan segala kerusuhan yang berpotensi menyemai bibit-bibit disintegrasi bangsa, maka perlu ditindak setegas-tegasnya. Disinilah Jokowi memakai jimat buatannya sendiri, “pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu”, Negara pun hadir ditengah kegelisahan dan kecewanya publik menyaksikan kegaduhan-demi kegaduhan merecoki ketertiban dan keamanan.

Hanya saja, kehati-hatian itu sebagai taktik untuk skakmat secara perlahan. Semula memang nampak terlihat tak ada tindakan tegas dari negara. Sementara MRS dan FPI nya terus merasa congkak seolah dirinya manusia kebal hukum yang boleh melakukan apapun saja. 

Jokowi tenang, tanpa harus turun tangan dan ikut berkomentar. Ketegasan itu bersuara lirih, tanpa harus berkoar-koar, sangat samar oleh orang yang tidak memiliki naluri jernih dan tenang. Melalui pejabat-pejabat setianya caturnya mulai dimainkan. 

Barangkali penghujung 2020 ibarat pertandingan sepak bola, formasinya sudah dirancang dengan tak sepeserpen taktiknya diketahui lawan. Publik pun semakin trengginas menyaksikan kejuaraan NKRI ini, siapa nanti yang akan jawara sebagai pemegang tampuk pertiwi, antara islam politik-yang diwakili FPI dan komplotannya atau kutub nasionalis yang diwakili Jokowi (pemerintah). 

Suatu kompetisi besar-besaran, antara mempertaruhkan NKRI harga mati versus NKRI Bersyariah-bersama mendiangnya HTI. Siapapun yang kalah maka akan sulit menang kembali, dan butuh terseok-seok untuk meraihnya. Ini melihat pengalaman era SBY, meski dirinya berlatar militer, sepuluh tahun kepemerintahannya begitu aman, seolah tak ada riak-riak kegaduhan. Itu sebabnya adalah kelompok-kelompok islam politik-termasuk di dalamnya para mafia, koruptor diberi tempat, supaya tak berisik terhadap kekuasaannya. 

Kini, pembiaran itu terhenti sampai masa tiba Jokowi memerintah. Cukup sudah negeri ini dicabik-cabik oleh anak bangsanya sendiri, yang tempo dulu Soekarno sudah memperingatinya. Dan bagi pemenang, babakan baru akan dimulai. Berada dalam bujur manakah Indonesia kelak, itu akan menentukan nasib negeri kedepannya. 

Inilah yang ditangkap oleh kalangan nasionalis, kejuaraan ini sebenarnya telah dimulai babak pertamannya pada medio 2017. Demo berjilid-jilid menjadi saksi dengan bungkus ayat-ayat tuhan yang di komersialkan di pasaran politik membawa realitas perpolitikan paling memalukan dalam sejarah pemilu di Indonesia. Anis Baswedan menjadi DKI 1 dengan dukungan penuh mereka. Meski sesungguhya kemenangannya berbalut bercak-bercak SARA. Bagi mereka, kemenangan telak kala itu merupakan pelatuk dari kemenangan-kemenagngan yang lain kemudian hari di arena perpolitikan Indonesia. Kala itu, Jokowi bukan membiarkan Ahok, sebagai sahabatnya, ia sadar bahwa waktu akan kembali mempertemukan pada kebenaran yang terkuak di waktu yang tepat. 

Tapi lain kali 2020, tahun pandemi membawa petaka, peristiwa diluar nalar pun mengejutkan orang-orang tentang Ahok dan sumpahnya setelah mendapati putusan pengadilan kala itu. Satu persatu kebenaran menunjukkan jalannya sendiri. Pangdam Jaya dan  Kapolda Metro Jaya, memburu sandiwara MRS setelah lari tunggang langgang karena terjepit. Tanggal 13 Desember menjadi buah simalakama, tepat sama seperti pada 13 desember 2017 saat Ahok dihabisi ke pledoi gerombolan FPI. Karma mempertemukannya. Setelah sebelumnya aksi serang-serangan terjadi enam laskar pengawal MRS tertembak mati oleh polisi. 

Banyak pihak meragukan peristiwa itu, FPI menyebut itu rekayasa, tapi polisi pun punya bukti kuat. Sampai-sampai publik lagi-lagi dibuat bingung mana kebenaran pada peristiwa ini.  Bersamaan pula, bibit-bibit terorisme menjangkiti kader-kader FPI. Maka dirasa bahayanya tak ketulungan lagi. 

Enam pejabat teras yang dipimpin Mahfud MD, Menko Polhukam RI mengesahkan pembubaran FPI secara menyakinkan. Bola salju menggelinding dengan cepatnya. Badai salju menerjang FPI, dengan keluarnya pernyataan pemerintah yang menetapkan FPI sebagai organisasi terlarang (30/12). Maka tamatlah riwayat FPI. 

Bahkan Brimob-TNI sore kemarin (30/12) mendatangi Petamburan dan mencopoti spanduk FPI. Petugas gabungan itu dipimpin oleh Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto dan Dandim 0501/Jakarta Pusat Kolonel Inf Luqman Arief.

Tentu, dari semua jihad politik pemerintah, tak cukup sampai organisasinya dibubarkan, sebab ideologi tak pernah mati. Akan selalu subur dimanapun ia melangkah, namun optimisme tetaplah harus disematkan pada doa-doa penjaga negeri dan pengawal NKRI supaya istikomah dan kokoh menjaga Indonesia. Dan satu hal yang pasti bahwa pemerintah dan masyarakat sudah muak dengan kehadiran islam politik di negeri “Bhinneka Tunggal Ika”

Disnilah dunia harus membuka mata, sosok yang dinilai kurus dan planga-plongonya bisa mematikan. Jokowi diam bukan berarrti tak bergerak. Bukan seorang Jokowi namanya jika tengah memainkan ritme politiknya dengan cara berisik. Seni perang orang Jawa baginya sudah menjadi dirinya sendiri,” membunuh tanpa menyentuh”. Bukti bahwa pemerintah terlihat tidak main-main dan sangat serius membedil bagi siapapun yang hendak mengoyak-ngoyak NKRI.

Oleh: Rifand NL

Penulis, adalah Sarjana Administrasi Publik Universitas Wiraraja.

Pos terkait