Menggali Kembali Kedaulatan Berdemokrasi

Menggali Kembali Kedaulatan Berdemokrasi

Negara yang merdeka harus memiliki kedaulatan dan dasar-dasar yang sesuai dengan karakter bangsanya. Indonesia memiliki beragam suku bangsa yang sampai saat ini terjaga keharmonisan dan keharmonian dari keanekaragaman tersebut. Kita sebagai bangsa Indonesia harus paham tentang aturan dan cara hidup bernegara dan berbangsa.

Demokrasi adalah prinsip yang berlaku dan diterapkan Indonesia dalam berpolitik dan mengatur hukum di Indonesia. Demokrasi memiliki arti kedaulatan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Semua berawal dari rakyat dan berakhir untuk rakyat. Suara rakyat adalah kedaulatan yang sah untuk menentukan kewibawaan Indonesia, tentu rakyat Indonesia harus memiliki tanggungjawab dan integritas kepada negaranya.

Jangan bersikap acuh dan ingin menang sendiri. Apalagi di dalam zaman serba cyber seperti ini. Teknologi sudah mewabah dan memudahkan manusia untuk mengakses segala informasi. Dari hal tersebut, tentulah ada hal positif dan negatif yang memiliki dampak pada suara rakyat. Boleh saja kita bebas mengeluarkan aspirasi dan asumsi dari informasi yang kita peroleh, tetapi jangan sampai hal tersebut memecah belah antara negara dan rakyat. Sehingga antara pemerintah dan rakyat kurang lagi memiliki kepercayaan.

Pemerintah juga harus paham dan mengerti tentang karakter rakyat dan perasaan rakyatnya. Misal saja, di perkotaan masih ada kehidupan masyarakat urban yang menerapkan hidup ala barat dan tidak lagi menunjukkan karakter bangsa Indonesia. Hidup mereka menerapkan logika dan kesenangan duniawi sebagai hal yang pertama. Sehingga, tidak mau lagi peduli pada perasaan orang lain yang telah mereka sakiti dan mereka dustai.

Jika hal tersebut telah mewabah, kita kembali lagi pada Pancasila: Pertama, ketuhanan yang maha esa. Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, persatuan Indonesia. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/keadilan. Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai rakyat yang awam, pakai saja analisa untuk memahami keadaan yang akan terjadi dan yang telah berlalu. Kenapa para pendiri bangsa Indonesia merumuskan sila pertama dengan bunyi tersebut? Sedangkan Pancasila digali dari kehidupan dan karakter rakyat Indonesia yang pantas untuk dijalankan dan diterapkan dalam kehidupan untuk mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang merdeka, mandiri, adil, makmur dan berdaulat.

Tentu saja, kita tidak harus berpikir dan ebrkiblat pada satu bidang ilmu dan penerapan logika. Tetapi harus memadukan keharmonian segala bidang ilmu dan pengetahuan tersebut agar terwujud keseimbangan kehidupan yang aman, damai, adil, dan sejahtera. Misal saja, hal utama yang patut kita soroti adalah pendidikan, ekonomi, dan pembangunan.

Pendidikan di Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara maju karena kurang adanya keterbukaan dan kejujuran dalam bidang ilmu. Keterbukaan yang saya maksud, adalah menerapkan bagaimana sistem belajar negara maju dalam mencetak anak-anak bangsanya menjadi hebat dalam bidang ilmu dan bakat yang dikuasainya. Kejujuran yang saya maksud adalah kurang adanya kejujuran dalam hal kemauan niat untuk menuntut ilmu dan menambah wawasan, sehingga mereka hanya tumpang tindih dalam mencari kejayaan pribadi.

Ekonomi Indonesia masih tertinggal jauh dari negara maju, sehingga masih banyak kemiskinan. Itu semua karena adanya kurang komunikasi dan keterbukaan, serta kurang adanya kemauan yang kuat dari segenap rakyatnya. Kenapa Jepang yang telah dibom atom oleh Sekutu bisa bangkit kembali dan mewujudkan kejayaannya sebagai negara maju, sedangkan Indonesia yang dilimpahi kekayaan alam yang melimpah justru tidak bisa mengolah sebagian besar kekayaan tersebut. Indonesia hanya mementingkan tujuan negara, bukan tujuan rakyat yang makmur dan sejahtera.

Dalam hal pembangunan, rakyat kecil selalu menjadi korban dari pembangunan di Indonesia. Mereka digusur, dipaksa mengungsi dan pindah, kehilangan ekonomi dan memiliki beban trauma. Memang benar pembangunan penting untuk mewujudkan kemajuan sebuah negara, tetapi rakyat miskin yang selalu menjadi korban pembangunan. Sedangkan orang-orang cukong dan bos-bos menjadi penikmat yang aman. Indonesia mesti memperhatikan masalah kecil yang menjadi permasalahan rakyat. Karena masalah kecil selalu saja diabaikan sehingga menjadi masalah yang dikhawatirkan nanti.

Oleh: Muhammad Lutfi

Penulis, adalah Sastrawan di Pati, Jawa Tengah.

Pos terkait