Mengenang KH. Ghazali Ahmadi; Da’i Sejuta Kampung

Mengenang KH. Ghazali Ahmadi; Da’i Sejuta Kampung
KH. Ghazali Ahmadi.

Oleh: Mushafi Miftah

Tepat pada tanggal 28 Oktober 2021, KH. Ghazali Ahmadi genap 100 (seratus) hari meninggalkan dunia fana ini untuk menghadap sang Ilahi. Namun air mata kerinduan akan dedikasinya, dawuh-dawuhnya, pengabdian, perjuangan dan sosoknya masih terpatri di sanubari hati para santrinya dan masyarakat Pulau Kangean secara umum.

Bacaan Lainnya

Air mata kerinduan itu semakin terasa tatkala bulan Maulid ini tiba. Sebab, dalam setiap momentum perayaan maulid Nabi ini, masyarakat Kangean selalu disuguhkan dawuh-dawuh Kiai Ghazali Ahmadi tentang sosok manusia agung bernama Muhammad SAW. Namun, dawuh-dawuh Kiai Ghazali Ahmadi tentang keagungan baginda Nabi itu tidak lagi terdengar bersamaan dengan kepergian beliau ke dunia keabadian.

Di Pulau Kangean, Kiai Ghazali Ahmadi bukan hanya dikenal sebagai pengasuh Pesantren PP. Zainul Huda yang alim dan allamah, tapi juga dikenal sebagai seorang da’i yang handal dan kondang. Sehingga tidak heran jika beliau selalu menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai macam masalah sosial dan kegamaan. Hingga kinipun, ketokohan dan kealimannya masih menjadi perbincangan di kalangan murid beliau dan masyarakat Pulau Kangean secara umum.

Ghazali Ahmadi memang bukan tokoh nasional yang sering tampil di forum-forum nasional, akan tetapi ketokohan dan kealimannya cukup diakui berbagai kalangan. Atas kealimannnya ini, Kiai Ghazali sangat disegani oleh berbagai kalangan masyarakat baik di kepulauan Kangean maupun di Kabupaten Sumenep. Kiai Ghazali tidak hanya menjadi rujukan bagi masyarakat di sekitar kampungnya tapi juga para tokoh agama, pejabat dan politisi di Kabupaten Sumenep utamanya pulau Kangean.

Berdakwah dari Kampung-ke Kampung

Bagi Masyarakat Pulau Kangean Kiai Ghazali bukan hanya dikenal sebagai seorang Kiai yang alim tapi juga sebagai seorang Da’i yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Ceramahnya memukau, materinya padat dan gamblang sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dalam berdakwah atau berceramah Kiai Ghazali tidak hanya menyampaikan materi tapi seringkali diselingi dengan humor-humor dan jok-jok yang mendidik dan cerdas khas Kiai NU, sehingga suasana pengajian tetap hidup.

Karena kealiman dan kepiawaian dalam berdakwah dan berceramah, sehingga hampir semua hidupnya Kiai Ghazali digunakan untuk mendidik para santri dan berdakwah dari dari Desa ke Desa dan dari kampung ke kampung. Atas aktivitasnya yang padat dengan berdakwah ini, Kiai Ghazali seringkali dijuluki sebagai Da’i sejuta kampung.

Julukan itu tentu bukan tanpa alasan, tapi sebagai adegium untuk menggambarkan sosok Kiai Ghazali sebagai seorang pendakwah yang kondang. Hampir keseharian hidup Kiai Ghazali Ahmadi digunakan untuk berdakwah ke kampung-kampung yang ada di Pulau Kangean. Sehingga wajar jika beliau mendapatkan julukan Da’i sejuta kampung.

Medan dakwah Kiai Ghazali bukan laiknya Kiai-Kiai di daratan perkotaan yang tanpa tantangan apapun. Akan tetapi dalam berdakwah, Kiai Ghazali Ahmadi menelusuri teluk dan jalan-jalan berliku, terjal dan tidak beraspal.  Transportasi yang digunakan dalam berdakwah tak seperti Kiai yang ada didaratan yang kemana-mana menggunakan mobil, tapi Kiai Ghazali cukup berjalan kaki dan sesekali menunggang Kuda untuk sampai ke lokasi pengajian bahkan juga kadang menggunakan perahu kecil melewati teluk menuju pulau-pulau terpencil yang ada di sekeliling Pulau Kangean.

Kondisi itu tidak mematahkan semangat Kiai Ghazali dalam berdakwah. Semangatnya terus berkobar untuk menyebarkan Islam Ahlussunnah Wal Jamah An-Nahdliyah ke pelosok-pelosok Pulau Kangean. Bahkan dalam berdakwah Kiai Ghazali Ahmadi seringkali mendapatkan tantangan seperti ancaman dari orang-orang yang tidak menghendaki masyarakatnya berpendidikan dan berpengetahuan. Ancamanpun beragam, mulai dari ancaman fisik, cacian, hingga ancaman yang berupa ilmu hitam (sihir).

Akan tetapi hal itu tidak menyurutkan nyali Kiai Ghazali Ahmadi dalam mendakwahkan agama Islam, justru dijadikan motivasi untuk menyusun strategi dakwah. Karena bagi Kiai Ghazali Ahmadi berdakwah merupakan amanah dari Allah yang harus terus dijalankan sebesar apapun rintangan yang menghalanginya. Sehingga tak heran jika gelora dakwah Kiai Ghazali Ahmadi terus eksis meskipun usia beliau sudah mencapai 70-an lebih. Dalam kondisi kesehatannya yang sering sakit-sakitan karena di makan usia, tapi aktivitas dakwah Kiai Ghazali Ahmadi terus jalan.

Sosok Kiai yang Merakyat

Kiai Ghazali Ahmadi merupakan sosok Kiai yang tidak pernah menjaga jarak dengan siapapun termasuk dengan masyarakat biasa. Kadekatan Kiai Ghazali dengan masyarakat bawah tersebut bukan tanpa alasan tapi sebenarnya ada misi dakwah dan pendidikan, yakni untuk memberikan edukasi dan keteladanan bagi warga setempat. Karena pada hakikatnya, Kiai Ghazali Ahmadi merupakan sosok Kiai yang memiliki aktivitas yang cukup padat, bahkan sampai usianya menginjak 70-an tahun. Namun, beliau selalu menyempatkan diri untuk menyapa dan berbaur dengan masyarakat dalam kesehariannya.

Berbagai aktivitas sosial seperti santunan bagi masyarakat tidak mampu seringkali beliau lakukan secara pribadi dengan membagi-bagikan rezeki baik berupa uang maupun sembako. Kegiatan semacam ini rutin beliau lakukan setiap tahun. Tujuannya tak lain ialah guna untuk membantu masyarakat yang tidak mampu terutama di Dusun Duko Laok. Bahkan dalam setiap tausiyahnya kepada para santri dan para asatid di Pondok Pesantren Zainul Huda Kiai Ghazali Ahmadi selalu menekankan untuk memegang prinsip persamaan bagi sesama manusia.

Bukti lain merakyatnya Kiai Ghazali Ahmadi ialah dapat dilihat dari kebiasaan beliau untuk selalu ikut bergotong royong dengan masyarakat untuk kerja bakti memperbaiki jalan terutama ketika musim hujan datang. Meskipun beliau seorang pengasuh pesantren dan Kiai yang alim yang terkenal, tapi Kiai Ghazali Ahmadi tidak pernah segan berbaur dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Sehingga tidak heran jika Kiai Ghazali dikenal sebagai Kiai yang dekat dengan masyarakat atau kiai yang merakyat. Akhirnya saya berdoa semoga Allah meninggikan derajat beliau di SisiNya. Wallahu A’lam!

Kader Muda NU Jawa Timur, Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Kandidat Doktor di Universitas Jember.

Pos terkait