Mata Air Keteladanan Kepemimpinan Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan

Mata Air Keteladanan Kepemimpinan Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan
Mata Air Keteladanan Kepemimpinan Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan

Oleh: Romadhon Jasn

Baru-baru ini Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) merilis hasil studinya terkait performa kinerja kabinet Indonesia maju jilid II. Hasilnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan ditempatkan sebagai yang terbaik kinerjanya dengan meraih skor 99 dalam skala 0-100. Setidaknya ada tiga aspek yang menjadi indikator untuk memotret performa kinerja kabinet jilid II terutama dalam konteks menyikapi serta merespon wabah Pandemi Covid-19. Pertama, terkait aspek kepemimpinan (leadership). Kedua, terkait aspek kebijakan (policies). Ketiga, terkait aspek daya tanggap (responsiveness). Penilaian tersebut tentu didasarkan pada sikap, respons, dan daya tanggap masing-masing pimpinan lembaga negara dalam menyikapi serta merespons musibah Pandemi Covid-19 yang sampai detik ini tak kunjung selesai.

Bacaan Lainnya

Sebaliknya kurva Corona terus melonjak eskalasinya. Karena itu, dibutuhkan kesadaran kolektif dengan mengurangi aktivitas yang melibatkan banyak orang serta menerapkan protokol kesehatan sehingga paling tidak dapat memutus rantai penyebaran dan penularan Covid-19. Apalagi dalam masa penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tentu satu-sama lain memaksimalkan ikhtiar dengan mengurangi pelbagai kegiatan dan aktivitas.

Sosok Pemersatu

Studi yang dilakukan Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) merupakan hasil kajian dan pandangan para pakar yang secara khusus memotret kinerja kabinet jilid II dalam konteks merespon problem pandemi Corona. Selain tiga aspek tersebut di atas, terdapat variabel penting yang juga menjadi indikator penilaian terhadap performa masing-masing pimpinan lembaga negara. Adalah Jend. Pol (Purn).

Budi Gunawan atau lebih populer panggilan BG, seorang perwira polisi yang memiliki track record, dan rekam jejak serta jam terbang yang malang-melintang dalam pemerintahan. Reputasi dan sepak terjang mantan Wakapolri tersebut memang tidak dapat diragukan lagi sebagai sosok pemersatu. Karena itu, tak heran bila Jokowi “jatuh hati” pada sosok BG sehingga dipilih menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menjaga integrasi Indonesia dari pelbagai bentuk ancaman transnasional.

Selain cakap dalam membangun komunikasi dan piawai untuk urusan lobi-lobi membuat banyak pihak menaruh espektasi terhadapnya. Kepiawaian lobi politik BG terbukti ketika terlibat aktif dalam upaya rekonsiliasi nasional pascapilpres. Mempertemukan tokoh politik yang menjadi rival saat kontestasi pada Pilpres 2019 itu tidak mudah. Alhasil, rekonsiliasi nasional tersebut terjadi dengan pertemuan keduanya (Jokowi dan Prabowo). Rekonsiliasi nasional ini setidaknya berhasil menurunkan tensi dan suhu politik nasional yang terus memanas sejak Pilpres.

Tak hanya itu, dalam kasus Papua, Jenderal BG berhasil mempertemukan 61 tokoh Papua dengan Presiden. Pada titik inilah, jika menyaksikan keberhasilan kepemimpinan BG menahkodai Badan Intelijen Negara (BIN) tentu tidak lepas dari leadership serta talenta yang melekat pada diri-Nya. Pandai mengatur siasat dan meracik strategi, tajam dalam memotret persoalan, serta cerdas dalam mengurai pelbagai problem kebangsaan dan kenegaraan adalah talenta yang dimiliki Jenderal Budi Gunawan. Begitu juga dalam konteks penanganan wabah Pandemi Covid-19.

Badan Intelijen Negara (BIN) di bawah kendali BG selalu ada di garda terdepan dalam upaya mengatasi wabah Pandemi Covid-19. Memang diakui, bahwa langkah BIN menuai kritik dari segelintir orang karena dinilai ikut campur (intervensi) dalam persoalan yang jauh panggang dari “maqom-Nya” yaitu turut serta dalam mengatasi problem penyelesaian wabah Covid-19. Terlepas dari pelbagai kritik tersebut, yang jelas upaya yang dilakukan BIN sudah tepat di tengah menggunungnya pelbagai problem kebangsaan dan kenegaraan. Wabah Pandemi Covid-19 sejatinya bukan saja melulu persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan keamanan negara.

Di tengah ancaman menguatnya sektarianisme politik dan mengguritanya penyebaran ideologi transnasional berbasis radikal-ekstrem, maka sudah tentu BIN sangat reaktif dan merespons secara cepat dan tanggap. Dengan begitu, maka terkait sikap proaktif dan keterlibatan BIN dalam penanganan problem wabah Pandemi Covid-19 itu justru menjadi “teladan” bagi siapa pun karena sikap egaliternya yang lebih mengedepankan prinsif-prinsif humanisme di tengah banyaknya musibah yang melanda bangsa Indonesia termasuk musibah berupa wabah Pandemi Covid-19.

Dalam konteks ini, setidaknya ada beberapa catatan penting mengapa performa BG dinilai berhasil dalam merespons secara cepat dalam mengatasi problem wabah Pandemi Covid-19. Pertama, BG berhasil membangun komunukasi lintas sektoral terutama dengan institusi TNI-Polri sebagai mitra strategis. Selain itu, tentu tidak lepas dari kemampuan manajemen dan koordinasi yang dibangun jenderal Budi Gunawan sehingga berhasil menyelesaikan pelbagai persoalan tetutama dalam konteks mengatasi wabah Covid-19.

Kedua, institusi BIN di bawah kepemimpinan Jenderal Budi Gunawan berani mengambil resiko meski dikiritik banyak orang, tetapi atas nama kemanusian (spirit humamisme) serta keselamatan masyarakat dan negara BIN secara proaktif mengatasi problem wabah Pandemi Covid-19. Resiko dicibir dan dikritik justru tak menyurutkan BG untuk berbuat baik dan berkontribusi bagi bangsa dan negara sehingga ini patut dicontoh oleh generasi millenial, dan bahkan ini menjadi semacam “mata air keteladanan” seorang jenderal yang menjadi pahlawan dalam melawan wabah Pandemi Covid-19.

Penulis, adalah Ketua Umum Millenial Mitra Polisi (MMP)

Pos terkait