Koperasi: Masyarakat Mandiri Secara Finansial, Negara Kuat di Kancah Internasional

Koperasi: Masyarakat Mandiri Secara Finansial, Negara Kuat di Kancah Internasional

Terbentuknya koperasi tidak terlepas dari pemikiran Budi Utomo pada tahun 1908 yang menyatakan bahwa, masyarakat yang lemah secara finansial tidak akan menciptakan negara yang adidaya. Maka dari itu hadirlah pemikiran yang melahirkan koperasi yang nantinya berguna bagi roda perekonomian masyarakat. Di samping itu, unsur penyokong perekonomian sejauh ini ada dua jenis. Yang pertama ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang kedua Badan Usaha Milik Swasta (BUMS).

Berbicara tentang koperasi sangatlah banyak macamnya. Tapi, Jika dilihat dari jenis usahanya, koperasi sendiri meliputi empat macam: A) koperasi produsen B) koperasi konsumen C) koperasi simpan pinjam D) koperasi jasa. Selain itu ada juga koperasi pegawai negeri, koperasi karyawan, koperasi sekolah serta koperasi-koperasi yang lainnya.

Tentunya, koperasi apapun yang dijalankan esensi dan tujuannya sama, seperti yang telah termaktub dalam Undang-undang no. 25 tahun 1992 pasal 4 yang berisi tentang peranan untuk mengembangkan potensi anggota lembaga tersebut serta masyarakat umum, serta juga terus memperbaiki kualitas kehidupan manusia, semakin memperbaiki roda perekonomian masyarakat lokal sehingga nanti juga akan berdampak baik bagi perekonomian nasional.

Dalam mewujudkan koperasi yang maju, tentu harus ada hubungan kerja yang rukun antar anggota supaya tercipta tujuan bersama yang dikehendaki. Kegiatan tidak bisa hanya dilakukan oleh sebagian anggota saja. Jadi, mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi memang menjadi asas yang paling primer dalam menjalankan kegiatan koperasi. Seperti apa yang telah dimandatkan oleh bapak koperasi Indonesia yaitu Mohammad Hatta atau akrab disapa dengan nama Bung Hatta. Berkat gagasan beliau yang bertujuan untuk memakmurkan rakyat melalui organisasi yang bernama koperasi yang berlandaskan asas kekeluargaan serta membangun usaha bersama secara bersama-sama dapat memperbaiki masalah ekonomi yang dihadapi.

Tujuan koperasi esensinya adalah untuk memperbaiki problematika perekonomian baik di kota maupun di desa. Memberikan dampak positif bagi anggota maupun masyarakat pada umumnya. Terutama di desa, banyak keluarga yang membutuhkan organisasi semacam koperasi ini. Bagi saya, wilayah-wilayah atau desa yang tertinggal dalam tanda kutip perekonomiannya, tentu sangat pas sekali bila ada koperasi yang ikut andil peran di dalamnya.

Apalagi masyarakat sekarang yang berbondong-bondong ke kota untuk mencari lapangan pekerjaan. Nah, fungsi dan nilai tepat guna justru berada pada titik ini kenapa koperasi harus ada. Dengan berdirinya, terutama pada daerah-daerah tertinggal diharapkan dapat mengurangi pengangguran serta serta dapat mengurangi arus urbanisasi, mengembangkan nilai usaha yang dirintis secara mandiri, meningkatkan mutu serta pendidikan rakyat, sebagai alat untuk menyejahterakan anggota dan masyarakat, menciptakan demokrasi ekonomi, serta yang terakhir adalah menciptakan tatanan perekonomian nasional.

Masalah pengangguran memang sudah menjadi polemik yang tak berkesudahan. Berbagai strategi sudah banyak diluncurkan, namun tetap saja permasalahan itu tetap berkecamuk terutama di negeri ini. Saya kira, hadirnya koperasi pada tiap desa dapat mengurangi pengangguran di masyarakat. Karena dengan menjadi anggota koperasi dapat secara langsung melakukan transaksi simpan pinjam untuk kegiatan usahanya. Dari hal itulah siklus perkembangan usaha mandiri di masyarakat akan lebih baik.

Apalagi menghadapi situasi pandemi seperti sekarang ini. Tanpa dipungkiri sektor perekonomian baik mikro maupun makro mengalami kecacatan di berbagai sudut. Kebutuhan membeli sandang dan pangan jadi sulit. Masyarakat jadi kalang-kabut akibat penghasilan mereka timpang. Untuk mengurangi ketimpangan ekonomi ini, koperasi bisa mencanangkan program khusus untuk menangani kesukaran yang diakibatkan oleh pandemi ini. Misalnya menyediakan kebutuhan pokok serta alat penunjang kerja sesuai dengan mata pencarian penduduk (bertani atau nelayan) tentunya dengan harga yang lebih murah dari pasaran.

Keberadaan koperasi sebagai roda perekonomian masyarakat haruslah bisa berkembang secara mandiri. Artinya, tidak bergantung pada kucuran dana dari pemerintah. Bagaimana caranya?

Penyebab Matinya Koperasi

Hal yang paling fundamental adalah kurangnya rasa memiliki setiap anggota koperasi untuk memenuhi kewajibannya sebagai anggota. Banyak dari anggota melupakan asas tujuan bersama serta tidak lagi mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Lupa bahwasanya asas kepercayaan menjadi hal ihwal bagi setiap anggota koperasi.

Loyalitas memang kerap menjadi permasalahan yang paling utama bagi setiap anggota. Apalagi diperparah dengan tidak mematuhi kewajiban yang harus ditunaikan. Simpanan wajib memang menjadi nyawa koperasi. Namun pada aspek inilah kebanyakan para anggota lalai dalam menunaikan kewajibannya, dan tidak dipatuhi.

Kelalaian dalam menunaikan kewajiban salah satunya disebabkan oleh faktor investasi yang serampangan. Perputaran uang yang biasanya disetorkan sebagai simpanan wajib digunakan untuk hal-hal lain. Misalnya saja dibelikan hal-hal yang dapat menyebabkan mandegnya perputaran uang. Akhirnya, terjadi keterlambatan setoran. Apa penyebabnya?

Budaya Hedonisme

Berbicara tentang budaya maka tidak akan pernah selesai. Apalagi dikehidupan yang serba canggih seperti sekarang ini. di mana peristiwa di meja makan bukan lagi sebagai unsur primer pelengkap kehidupan namun sudah bergeser sebagai pemuas keinginan yang harus terpenuhi. Jika mengambil teori psiko analisis Sigmund Freud ada tiga aspek yang menyokong manusia untuk terus melaju: id, ego, dan sup erego. Hedonisme lahir bilamana id selaku hasrat tidak dapat dibendung oleh super ego yang berfungsi sebagai alat kontrol.

Hedonisme sendiri lahir dari beberapa hal. Hal yang paling masif dan manusia modern tidak akan bisa terlepas dari cengkramannya yaitu keberadaan budaya layar. Iklan menjadi mobilitas manusia yang paling superior. Keberadaan gadget menjadikan setiap informasi sampai hanya dengan hitungan detik. Gaya hidup mulai dari cara berpakaian dan gastronomi secara tidak langsung selera kita diatur oleh handpone yang kita punya. Di samping itu, arus globalisasi yang cepat membawa dampak tersendiri bagi sendi kehidupan. Dan parahnya, kebanyakan dari kita hanyut dalam arus yang dapat menenggelamkan kita semua dalam budaya boros yang berakibat fatal pada aspek ekonomi.

Sikap tamak dan sikap boros adalah pembunuh utama mengapa banyak koperasi dan organisasi-organisasi lain yang berkecimpung dalam bidang ekonomi sering gigit jari. Manusia terkadang larut dalam kesenangan semata tanpa memikirkan imbas apa yang bakal terjadi. Bahkan tak jarang disebabkan karena iri terhadap tetangga yang lebih mampu membeli segalanya. Akhirnya, dengan memaksakan diri untuk bisa sama kayak tetangganya, semua hal dipaksakan. Meski uang yang awalnya akan digunakan untuk simpanan wajib berganti dibelikan hal-hal yang sifatnya serampangan.

Manusia memang tidak bisa lepas dari keinginan-keinginan yang selalu menggoncang hatinya, tak terkecuali tentang pemenuhan kebutuhannya. Contoh besar ritus hedonisme misal ketergantungan pada apa yang menjadi tren. Tren yang pertama adalah obsesi berbelanja benda yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Misalnya, mengikuti tren terbaru handpone, sepeda motor dan mobil, padahal ketiga benda tersebut sudah punya misalnya.

Hal lain gaya hidup makan dan minum atau bisa disebut dengan gastronomi. Kebutuhan dasar manusia untuk hidup tidak terlepas dari faktor gastronomi (makan dan minum). Namun, gaya hiduplah yang mengubah semuanya. Misalnya memilih makan di hotel berbintang dari pada di warung padahal menu yang ditawarkan sama.
Dari premis yang sudah berkelindan. Sikap hidup hedonis saya kira perlu ditinggalkan diganti dengan asas kekeluargaan. Biar koperasi bisa berjalan dan sesuatu yang diharapkan dapat tercapai. Masyarakat mandiri secara finansial, negara kuat di kancah internasional.

Oleh: Fahrus Refendi

Penulis, adalah Mahasiswa Universitas Madura Program Studi Bahasa & Sastra Indonesia.

Pos terkait