Kesalehan Filsafat

  • Whatsapp
Kesalehan Filsafat

Oleh: Imam Fawaid

Filsafat merupakan ilmu tertua yang berhasil lahir dari para filsuf sepanjang peradaban manusia. Keberadaan filsafat menjadi tradisi keilmuan yang mampu menampung cara berpikir serta merupakan tradisi ilmiah. Sebuah tradisi filsafat dapat mencerminkan pemahaman kognitif manusia dalam memaknai realitas dan segala problematika yang muncul dalam kehidupan manusia sepanjang masa.

Baca juga

Kemunculan filsafat bersifat general, seperti yang diungkapkan Prof. Masdar Hilmy bahwa hampir segala peradaban dunia berhasil berinteraksi dengan filsafat dalam merespon realitas sosial. Filsafat sebagai disiplin ilmu pengetahuan merupakan tolak ukur keberhasilan sebuah peradaban. Baik peradaban barat maupun peradaban Islam yang juga disentuh langsung oleh filsafat. Mengkodifikasikan filsafat menjadi sebuah ilmu pengetahuan guna memaknai zaman.

Berfilsafat kata Descartes merupakan bagian dari olah pikir. Slogan yang sangat populer ialah “Cogito Ergo Sum” (aku berpikir maka aku ada). Salah satu metode kritis Descartes untuk membaca serta menganalisa keadaan sekitar dengan mendahulukan keragu-raguan upaya mencari sebuah kebenaran yang bersifat rasional dan terukur. Namun ternyata kehadiran filsafat di sisi lain nampaknya kurang disambut baik oleh beberapa kalangan, tentu dengan doktrin yang bermacam-macam, ditambah lagi terkait problem kurikulum pendidikan filsafat yang kerap diwarnai dengan konflik sekitar seperti rumor bahwa filsafat menjadi salah satu ilmu yang kebermanfaatannya diragukan bahkan hampir selalu ditenggelamkan, ini selalui menjadi desas-desus bagi setiap yang tidak suka terhadap filsafat sebagai cara berpikir yang logis. Mereka berupaya melupakan keberadaan filsafat sebagai science yang telah menyumbangkan perannnya terhadap peradaban melalui metode keilmuan yang berdampak terhadap perubahan kehidupan, karena filsafat menjadi satu-satunya doktrin ilmiah yang pilih tanding dan sakti madraguna.

Meskipun beberapa tahun lalu saya mendapat “sentilan” dari salah seorang guru ketika menjatuhkan pilihan untuk menempuh kemampuan akademik melalui jalur filsafat di UIN Sunan Ampel Surabaya bahwa menurutnya filsafat dapat menghantarkan pada pemahaman yang berbahaya, bersifat radik, liberal cenderung kontroversial dan dapat merusak tatanan keimanan yang dianggap mutlak benar, kehadiran filsafat di sini seolah “virus” pengetahuan. Namun saya sebagai santri sekaligus murid pada saat itu tidak terjebak pada kalimat yang diungkapkan, saya mencoba mencari realitas dibalik kalimat yang disampaikan, saya meyakini bahwa guru tidak akan menjatuhkan santrinya ke dalam jurang kegelapan dan kesesatan dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Dari sekian waktu saya memilih merefleksikan serta mencermati secara personal kalimat yang diungkapkan, akhirnya dapat ditemukan kejelasan makna dibalik kalimat tersebut sehingga dapat memantapkan untuk tetap memilih jalur filsafat dalam menempuh kemampuan akademik.

Memang perjalanan akademik filsafat ditempa sekian tantangan, seperti kejadian  pada masa Socrates bahwa keberadaan filsafat pada saat itu juga terancam, disebabkan Socrates dituduh telah menyesatkan kaum muda dengan membawa keyakinan baru terhadap pemaknaan tentang realitas. Mereka (kaum Sofisme) menyebutkan “bahwa kebenaran yang sebenar-benarnya tidak bisa dicapai”, pernyataan tersebut dinilai cacat secara pengetahuan dan pembuktian, maka kegagalan kaum sofisme itulah yang menuai kritikan pedas dari Socrates, dan ia memilih mati dengan meminum racun sebagai bentuk tindakan yang ia anggap rasional (James Hastings:1973)

Modal tantangan yang seperti ini bukan alasan untuk membumi hanguskan filsafat sebagai pengetahuan kritis untuk tidak dikampanyekan sebagai tradisi ilmiah bagi kalangan akademis. Justru dengan tantangan tersebut kita yang konsen dibidang filsafat harus mampu membuktikan bahwa sebagai kedisiplinan ilmu pengetahuan yang filosofis-rasionalis telah berhasil menjadi paradigma pengetahuan bagi segala pengetahuan.

Seiring dengan lajunya peradaban yang berimplikasi pada perkembangan kebudyaan beberapa dekade terkahir ini, filsafat mengambil perannya dalam perkembangan kebudayaan tersebut sehingga dapat mendorong pengaruh utama dari perkembangan ilmu pengetahuan serta tekhnologi yang sangat pesat. Dalam catatan sejarah masyarakat kuno bahwa manusia hidup sebagai pemburu juga peramu dengan kebudayaannya yang  lambat. Namun perkembangan peradaban mulai terinteraksi dengan baik karena terjadi yang namanya revolusi pertanian serta timbulnya kota dan tulisan. Menurut T. Jacob bahwa tekhnologi memegang peranan penting, terutama dengan revolusi industri, perkembangan mulai terpacu lagi.

Oleh sebab itu, segenap interpretasi filsafat sangatlah mempengaruhi minat audien. Karena filsafat adalah cara hidup, orang yang memilih filsafat adalah pilihan benar, yang tidak sengaja memilih jalur filsafat maka yakinlah bahwa dia tersesat pada jalur yang benar. Pun demikian Hatta yang berpendapat bahwa filsafat seperti keniscayaan, filsafat merupakan dialektika yang sistematis menggunakan metode berfikir yang benar. Agar lebih muda dicermati dan dipahami maka filsafat harus sering dibicarakan, dikomuniaksikan serta diinterpretasikan secara ilmiah, sebab bila orang telah banyak membaca atau mempelajari fisafat, orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa itu filsafat, senada yang disampaikan oleh Langeveld bahwa ketika seseorang berfilsafat dengan sendiri, maka ia mengerti apa itu filsafat.

Penulis, adalah Koordinator Kader Anti Intoleransi dan Radikalisme 1 Jatim.

Pos terkait