Harlah Ke 95; Khidmat NU Dulu, Sekarang dan Akan Datang

Harlah Ke 95; Khidmat NU Dulu, Sekarang dan Akan Datang

Oleh: Mushafi Miftah

Tepat tanggal 31 Januari 2021, Nahdlatul Ulama (NU) memasuki usia yang ke 95 dalam hitungan kalender Masehi. Momentum Harlah ke 95 ini, NU mengambil tema (Hidmat NU; Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Kebangsaan). Sontak, momen ini disambut gegap gempita oleh seluruh nahdliyin dan Nahdliyat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Begitu juga di sudut-sudut kota dan Desa terbentang berbagai macam ucapan Selamat Harlah NU ke 95 melalui spanduk-spanduk, pamflet dan lain sebagainya. Di Media sosial pun tak kalah meriahnya, berbagai ucapan Harlah diekspresikan melalui video pendek, flayer, foto profil baik di Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp dan lain-lain.

Bacaan Lainnya

Ini menunjukkan betapa masyarakat begitu cinta pada NU, sehingga dalam setiap momentum Harlah NU, selalu disambut dengan riang gembira melalui berbagai acara, mulai dari pengajian umum, hingga tasyakkuran diberbagai pelosok desa. Betapa tidak, NU merupakan salah satu Organisasi Kemasyarakatan yang banyak berkontribusi dalam perjalanan bangsa ini. Dalam catatan sejarah, sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU telah banyak melahirkan rumusan-rumusan strategis dalam menjaga kesatuan bangsa Indonesia.

Pada masa-masa awal itu, NU sudah melakukan berbagai upaya untuk memajukan masyarakat Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah di bidang pendidikan dengan mendirikan banyak madrasah dan pesantren. Pada aspek sosial kemasyarakatan, peran NU juga tidak kalah besarnya mulai dari merumuskan konsep Negara Indonesia, menjaga eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketika Indonesia merdeka, NU juga terus melanjutkan hidmatnya melalui kegiatan-kegiatan sosial politik dan gerakan kemanusiaan. Atas jasa-jasanya ini, NU layak disebut sebagai salah satu benteng NKRI.

Khidmat NU

Dalam kurun waktu 95 tahun itu, hidmat NU dalam sejarah Indonesia tidak dapat diragukan lagi. Dari awal kelahirannya hingga saat ini telah memainkan  peranan yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, NU sudah banyak berkontribusi untuk bangsa ini. Mulai dari pra kemerdekaan hingga Indonesia merdeka peranan  NU tidak bisa dinafikan.

Pada awal-awal Kemerdekaan, NU adalah salah satu garda terdepan dalam mengusir koloni dan Penjajahan Belanda melalui Resolusi Jihad Mbah Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad NU inilah yang bara api dalam mengubarkan jihad perang para Kiai, santri dan masyakarat umum dalam mengusir koloni dan penjajahan Belanda pada tanggal 10 November 1945, yang selanjutnya dikenal sebagai hari Pahlawan.

Setelah Indonesia Merdeka, khidmat NU terus berlanjut mengawal kemerdekaan untuk memastikan Indonesia tetap berada dalam kesatuan. Bidang kebangsaan peran NU juga tidak kalah menterengnya. Pada Muktamar NU ke 27 di Situbondo 1984, NU menjadi garda terdepan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal. Pada masa itu, NU membuat keputusan bahwa Nahdlatul Ulama berasaskan Pancasila. Peran dan perjuangan NU sebagai organisasi keagamaan dan partai politik memang sangat signifikan.

Setelah NU kembali ke khitthah 1926, komitmen NU sebagai Organisasi keagamaaan dan kemasyarakatan terus ditunjukkan melalui kerja-kerja nyata. Di bidang pendidikan misalnya, melalui Pesantren dan Madrasah, dan lembaga pendidikan yang berada dibawah Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU terus secara konsisten dan Istiqomah mengadvokasi dan mengedukasi anak bangsa agar memiliki pengetahuan dan wawasan keagamaan yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah. Kurang lebih 22 ribu Pesantren yang berada dibawah naungan Rabithah Ma’ahidil Islam (RMI) NU. Begitu juga dengan Madrasah dan sekolah yang berada dikelola oleh LP Ma’arif NU.

Sedangkan dalam bidang sosial dan kemanusiaan peran NU juga sangat nyata. Mulai dari membantu masyarakat yang terkena musibah seperti bencana alam Banjir, Gempa Bumi, Longsor dan lain-lain. Dalam situasi seperti NU tidak pernah absen berkontribusi secara materi maupun tenaga. Hal ini dilakukan baik oleh PBNU, PWNU, PCNU dan banom-banomnya seperti Ansor dan Bansernya yang terjun langsung ke lapangan membantu warga. Begitu juga ketika Indonesia dilanda musibah Covid19 pada awal tahun 2020, NU juga sangat proaktif membantu pemerintah dalam mencegah meyebaran Covid 19 ini.

Lalu Bagaimana Kedepan?

Merujuk pada seabrek kontribusi dan khidmat NU pada agama, bangsa dan Negara tersebut pada sisi yang lain kita patut bangga, tapi di lain sisi kita tidak boleh terjebak pada romantisme sejarah yang bisa membuat kita terlena jejak kebesaran NU. Mengapa, karena seabrek tantangan dan pekerjaan rumah (PR) menunggu kiprah NU selanjutnya. Langkah yang harus dilakukan adalah menjaga konsistensi NU sebagai benteng NKRI.

Dalam konteks itulah, NU harus punya agenda strategis berupa master plan gerakan di era revolusi Industri 4.0 ini baik di bidang keagamaan, sosial, politik, ekonomi dan dakwah di era distrupsi ini. Sehingga Master Plan ini bisa menjadi kerangka acuan baik dalam proses kaderisasi, pendidikan, sosial politik, penguatan dakwah Islam ala ahlussunnah wal jamaah di era medsos, dan lain sebagainya. Melalui ini NU akan terus berkontribusi positif terhadap bangsa, agama dan Negara.

Karena sebagai mana dikatakan KH. Said Aqil Siroj, bahwa NU didirikan di atas tiga khidmat. Yakni, pemikiran, nasionalisme, dan ekonomi. Dalam bidang pemikiran, NU berperan sebagai penjaga paham Ahlussunnah Waljamaah dengan mengembangkan cara berpikir yang moderat. Kedua, nasionalisme memuat tekad NU bersumpah menjadi penjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila. Dan ketiga, ekonomi. Artinya NU harus mendorong bagaimana pembangunan Ekonomi bisa berkeadilan sebagai ejawantah dari sila kelima Pancasila.

Penulis, adalah Kader Muda NU Jawa Timur dan Dosen Universitas Nurul Jadid serta Kandidat Doktor di Universitas Jember.

Pos terkait