Fauzi dan Transformasi Kepemimpinan

  • Whatsapp
Fauzi dan Transformasi Kepemimpinan

Bagi kalangan masyarakat Sumenep, Ahmad Fauzi memiliki gaya kepemimpinan yang egaliter, blusukan dan rendah hati. Fauzi memiliki gaya interaksinya yang komunikatif, modal sosial ini menjadi suatu katarsis bagaimana memposisikan kapasitasnya sebagai figur publik terhadap rakyat secara umum. Sejak hadirnya figur Fauzi di Pilkada 2015 lalu, relasi kuasa antara kepemimpinan publik dan masyarakat perlahan melentur, perihal gap antara penguasa dan rakyatnya.

Tampilnya Fauzi membawa sesuatu yang berjarak menjadi dekat, dan wajah Sumenep menemukan energi demokratis yang membangkitkan semangat baru dalam transformasi sosial. Ditambah lagi, pada Pilkada 2020 ini ia maju sebagai pasangan calon Bupati nomor urut 01 yang didampingi oleh Nyai Dewi Khalifah sebagai calon wakil Bupati.

Menilik secara historis, Kabupaten Sumenep selama satu dasawarsa lebih sejak tampilnya trah kiyai berkuasa pada gilirannya memunculkan pola relasi kuasa terhalang jurang pemisah. Komunikasi massa dibangun atas landasan etik yang kaku, sebagai percik-percik kultur paternalistik yang masih mengakar kuat di masyarakat. Tentunya, hal ini bisa merubah pola.

Beruntungnya, saat Pilkada 2015, Abuya Busyro menggandeng Fauzi. Keberadaannya menjadi penyeimbang fenomena gaya komunikasi figur kiyai dalam hubungannya bersinggungan dengan rakyat.  Fauzi pelan-pelan menjahit akrobat sosial yang lama belum ditenun. Mulailah dinamika kepemimpinan Sumenep dibawa ke arah yang tepat, tanpa menyerobot secara radikal.

Satu persatu bab-bab sosial di Sumenep dipreteli dan dibangun keharmonisan. Upaya rihlah kepemimpinan untuk menyapa dan mengajak dalam satu simpul, yang tua dan muda disentuh dengan gaya komunikasi massanya. Fauzi adalah orang baru dalam dinamika politik Sumenep, namun angin segar segera menyejukkan dahaga ritual bermasyarakat yang lama sekali feodalistik. Makanya, selama membersamai Bupati Abuya Busyro, ia hadir sebagai penyempurna, Abuya Busyro dalam kapasitas Bupati, menata birokrasi menjadi lebih segar dengan protap yang eksentrik, dan Fauzi sebagai Wakil Bupati mengambil peran horinzontal dengan mengulum rakyat ke dalam interaksi tanpa sekat. Berkat kiprahnya, tak heran jika Fauzi dikenal mampu berbaur dengan semua golongan.

Sebagai simpul, di tengah birokrasi Sumenep yang telah ditata oleh Abuya Busyro dengan baik, Fauzi pun telah menata relationship ke satu meja yang saling menyapa terhadap rakyat tanpa terkecuali. Dengan begitu, kerja transformasi kepemimpinan akan tumbuh berkembang dengan sendirinya.

Tak berlebihan, jika pada Pilkada Sumenep 2020, Fauzi sudah establish sebagai pemimpin Sumenep. Oleh sebab membersamai Abuya Buysro selama lima tahun adalah modal merigit aspek krusial pembangunan, baik pembangunan fisik maupun non-fisik. Hal ini bisa dilihat pada visi-misinya yang merangkumnya dalam delapan program terutama paparanya dalam debat kandidat.

Secara umum, delapan program yang Fauzi bersama Nyai Eva agendakan, merupakan anasir kebijakan populis yang belum nampak nyata terjawab. Ada beberapa isu yang oleh Fauzi-Eva ingin dituntaskan.

Pertama, pelayanan, perhatiannya terhadap nasib para guru ngaji di desa-desa, menjadi objek penting untuk disejahterakan, sebagai balas jasa dan pembubuh motivasi lebih mereka yang turut membangun peradaban pada generasi bangsa. Peningkatan pelayanan transportasi, oleh sebab kabupaten Sumenep terdiri dari geografis antara daratan dan kepulauan, Fauzi memperhatikan betul agar supaya akses dapat dijangkau dengan mudah dan cepat guna menata konektivitas daratan kepulauan terintegrasi dengan baik serta pelayanan kesehatan yang tak kalah jauh penting.

Kedua, ekonomi, barangkali isu ini akan menjadi bidikan utama oleh Fauzi. Jika diamati lebih luas, ada tiga pemetaan untuk merealisasikan big plan yang akan dicapai, yaitu mencetak skill entepreneurship bagi kalangan muda, penataan ekonomi desa dengan konsep tematiknya, dan kawasan pariwisata. Ketiga-tiganya sudah barang tentu akan menyasar UMKM yang diharapkan mendapat tempat yang laik, baik bantuan modal, pembinaan dan akses pasar dengan gagasan ekonomi kreatifnya. Terlebih yang menjadi millenialistik, adalah ketika kesadaran akan teknologi mutakhir dalam pemasaran produk dan jasa, sepertinya Fauzi akan melihat lebih pemanfaatan ruang digital untuk memandu lajur pergerakan ekonomi bergulir terpadu dan cepat pada era revolusi 4.0.

Ketiga, mengembalikan semangat gotong royong. Hal tersebut sebagai upaya Fauzi untuk mengembalikan mutiara sistem bermasyarakat Indonesia terutama pada masyarakat Sumenep supaya hidup dan menghidupkan ritus sosial yang sudah ada sejak nenek moyang terdahulu. Karena gotong royong adalah ruh sejatinya dalam memimpin masyarakat.

Dari sekian program yang dirancang matang-matang, membutuhkan proses transformasi kepemimpinan di mana pemimpin harus  melakukan komunikasi  dengan semua elemen. Fauzi dalam track record-nya memiliki modal pengalaman ini, kapan dan bagaimana pendekatan Bottom-Up dan Top-Down harus sama-sama digunakan. Karena kabupaten Sumenep, ada suku dan bahasa yang berbeda, jadi setiap harapan, ekspektasi dan kekhawatiran setiap rakyat Sumenep akan berbeda pula cara penyelesaiannya. Sebab komitmen kepemimpinan dalam menjalankan rencana, kebijakan dan strategi pemerintahan akan menciptakan motivasi, sense of belonging dan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya.

Pada hemat saya, hadirnya Fauzi di pentas Pilkada Sumenep 2020 menjadi tantangan dan harapan masyarakat. Kepemimpinan Fauzi merupakan politik kaum muda alias politik gagasan yang penuh dengan ide baik dalam pembangunan ekonomi maupun dalam hal menata masyarakat. Paling tidak, karya-karyanya dapat dilihat sejak menjadi Wakil Bupati.

Oleh: Rifand NL

Penulis, adalah Penggiat Kajian Politik dan Kebijakan Publik.

Pos terkait