Confident Muslim, Opini Publik dan Terorisme

Confident Muslim, Opini Publik dan Terorisme

Percaya Diri sebagai Muslim

Muslim yang percaya diri (confident Muslim) harus menunjukkan semangat dan perilaku beragama yang baik. Menampilkan sikap lembut kepada orang lain tanpa membedakan agama dan ras adalah bentuk kepercayaan diri yang cerdas. Muslim yang bijak berada di jalan tengah, yaitu bersikap moderat dan lembut dalam segala hal. Di satu sisi, ia akan meninggalkan pemikiran liberal yang memberikan ruang tafsir bebas tanpa batas dalam beragama. Di sisi lain, ia juga menolak pemahaman radikal yang terlalu kaku dalam beragama sehingga menyebabkan aksi kekerasan.

Bacaan Lainnya

Pemikiran liberal yang dilakukan sebagian Muslim, sambil mengolok-olok agamanya sendiri adalah bentuk kurangnya rasa percaya diri sebagai Muslim. Ada oknum Muslim yang mengaku sebagai alumni dan mengajar di kampus luar negeri dengan sengaja membuat pernyataan yang terkesan merendahkan agamanya sendiri di akun media sosialnya. Sehingga banyak penganut agama lain berkomentar negatif terhadap agama Islam kolom komentar. Pemikiran liberal berusaha untuk membongkar aspek teologis dalam agama yang telah berdiri kokoh dengan argumentasi kuat serta berjalan ratusan bahkan ribuan tahun. Sementara pemikiran liberal yang menghantui sebagian Muslim tidak lebih sebagai copy paste terhadap pemikiran para orientalis yang telah banyak dibantah oleh para cendekiawan Muslim moderat.

Pemahaman Barat boleh saja diadopsi jika memang sejalan dan atau tidak bertentangan dengan Islam. Sebab agama penuh lembut ini terbuka dengan semua pemikiran, namun memiliki batas-batas tertentu. Artinya Muslim harus cerdas menganalisis antara pemahaman yang pantas dan tidak serta pemikiran yang baik dan tidak. Belajar di Barat bukan berarti kita harus mengikuti secara total dengan dalih bahwa pemikirannya lebih maju daripada Islam. Meniru pemikiran Barat sehingga melecehkan ajaran agama sendiri yang dianggap tidak logis adalah bukti bahwa tidak memiliki identitas kuat sebagai seorang Muslim.

Setiap Muslim adalah pendakwah yang memiliki tanggung jawab untuk menampilkan Islam dengan berbagai metode yang dapat menarik penganut agama lain untuk memeluk agama penuh damai ini. Sesama Muslim tentu juga saling menasehati agar semakin memperbaiki kualitas keyakinan dan kesalehan sosial. Sebagai penganut Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah al-Asy’ari, saya menghindar dari memberi label murtad kepada sesama Muslim termasuk yang berpikir liberal, kecuali ia jelas-jelas meninggalkan Islam. Dengan demikian, para Muslim liberal sejatinya ada masalah dalam pikiran dan jiwanya, yang menggunakan cara pandang Barat untuk menilai teologi Islam. Sikap ini membuktikan bahwa mereka tidak memiliki kepercayaan diri sebagai Muslim.

Terorisme dalam Bingkai Opini Publik

Hingga sekarang, dunia masih menganggap bahwa Muslim haus darah, yaitu mudah membunuh orang lain. Hampir semua aksi terorisme di dunia dikaitkan dengan Islam. Bahkan terkadang dengan rasa bangga ada oknum liberal yang menyetujuinya. Terorisme itu tidak bisa dikaitkan dengan agama tertentu. Bahkan dalam setiap agama ada oknum penganut yang melakukan aksi terorisme dan kekerasan. Israel dengan mayoritas beragama Yahudi melakukan penjajahan terhadap bangsa Palestina yang mayoritas Muslim. Sudah tidak terhitung jumlah Muslim yang wafat akibat peluru ganas dari negara Zionis tersebut. Apa boleh kita menyebut Yahudi sebagai agama teroris?

Sebagaimana dilaporkan oleh bbc.com/16/05/2019, bahwa meningkatnya kejahatan dan kebencian terhadap Muslim di India dalam beberapa saat, sebagian pihak merasa khawatir kalau negara demokrasi terbesar di dunia ini akan sangat intoleran terhadap Muslim di bawah kekuasaan Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP). Dengan mengutip laporan dari Human Rights Watch pada Februari 2019 menemukan bahwa antara Mei 2015 dan Desember 2018, sedikitnya 44 orang – 36 di antaranya Muslim – tewas di 12 negara bagian India. Mayoritas rakyat India adalah beragama Hindu. Apa lantas kita menyebut Hindu adalah agama yang mengajarkan terorisme kepada pemeluknya? Tentu tidak.

Etnis Rohingya memperoleh kejahatan di Myanmar. Sebagaimana ditulis sindonews.com/09/09/2020 bahwa untuk pertama kalinya dua tentara Myanmar bercerita kejadian genosida kelompok Rohingya, minoritas Muslim di negara tersebut. Keduanya mengakui eksekusi, penguburan massal, pemusnahan desa dan  pemerkosaan.  Mayoritas warga negara Myanmar adalah beragama Budha. Apakah kita menganggap Budha sebagai agama yang mengajarkan terorisme kepada pemeluknya? Tentu tidak.

Bagaimana dengan Amerika Serikat (AS)? Negara dengan mayoritas masyarakat beragama Kristen ini telah membunuh banyak manusia di berbagai negara. Sebagaimana laporan dari republika.co.id/08/08/2020, sekitar tujuh negara telah menjadi korban kesombongan AS, yaitu Kuba, Libya, Somalia, Haiti, Aghanistan, Iran, dan Irak. Indonesia sendiri dijajah oleh Belanda yang beragama Kristen. Hampir semua negara Muslim pernah dijajah oleh negara Barat yang mayoritas pemeluk Kristen. Apa lantas kita menyebut agama Kristen (Katholik dan Protestan) sebagai agama penjajah dan teroris? Padahal banyak penganut agama ini  yang berbuat baik dan membangun harmoni di masyarakat.

Laporan dari papua.inews.id/19/04/2021, bahwa pembeli senjata untuk Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) adalah seorang pendeta Kristen yang sering transaksi di dekat Gereja. Sebagaimana yang dirilis oleh liputan6.com/29/04/2021 bahwa KKB Papua telah ditetapkan sebagai kelompok teroris. Apa lantas kita menyebut Kristen adalah agama yang mengajarkan terorisme dan separatisme kepada pemeluknya? Tentu tidak. Padahal banyak daerah dengan mayoritas Kristen di Indonesia yang tetap bersatu dan sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Melabeli Islam sebagai agama terorisme adalah opini publik yang sengaja diciptakan oleh para pembenci Islam karena menjadi agama yang terus diminati di berbagai negara, termasuk di Barat. Maka opini publik negatif harus dilawan dengan opini publik positif.

Oleh: Samsuriyanto*

Penulis, adalah Pemerhati kajian dakwah, komunikasi dan radikalisme. Penulis buku Dakwah Lembut, Umat Menyambut (2020), Menyelamatkan Negeri: Dari Radikalisme, Covid-19 dan Korupsi (2021), Teori Komunikasi; Membangun Literasi, Menganalisis Situasi (2021) dan tiga buku lainnya.

Pos terkait