Cerita Bocah 6 Tahun Asal Batam yang Memilih Mondok di Pesantren Nurul Jadid Pada Masa Pandemi

  • Whatsapp
Cerita Bocah 6 Tahun Dari Batam yang Memilih Mondok di Pesantren Nurul Jadid
Alya Sufiany, santri kecil yang memilih mondok di Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. [KoranIndonesia.co]

Probolinggo, KoranIndonesia.co – Tidak semua orang tua nekad mengirim anaknya yang masih belia untuk belajar di Pondok Pesantren. Anak seumuran itu masih bahagia-bahagianya bersama kedua orang tua. Ia masih butuh belaian, pelukan dan kasih sayang orang tua di rumahnya. Kebanyakan di anak masih belia memiliki sifat manja dan ingin selalu dekat dengan orang tuanya. Dan ingin berbahagia bermain bersama teman sekampungnya.

Namun tidak berlaku bagi Alya Sufiany, gadis kecil berumur 6 tahun dari Batam. Dia meminta pada orang tuanya untuk di antarkan ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Gadis kecil itu lebih senang memilih hidup di pesantren daripada hidup di luar pesantren.

Baca juga

“Saya dari Batam ingin bersekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Mun’im (MINM) disini (Pondok Pesantren Nurul Jadid),” kata Alya saat ditanya oleh Panitia Penerimaan Santri Baru 2021.

Lulusan TK Islam Ibnu Khaldun, Bengkong, Batam ini menampakkan aura kegembiraannya saat usai menjalani proses pendaftaran. Ia sesekali melemparkan senyumnya saat ditanya oleh beberapa orang yang ada di sekelilingnya.

“Iya insyaallah saya kerasan berada di pondok,” jawab Alya saat menjawab pertanyaan salah satu tamu pesantren.

Humas dan Infokom Pesantren Nurul Jadid sempat mewawancarai Ibu Darmita, tak lain ibu dari Alya yang mengantarkannya ke pesantren.

“Dia alya, sangat senang sekali saat mau diantar ke Pesantren Nurul Jadid. Belajar di pesantren merupakan kemaunnya sendiri, ia katanya ingin hidup mandiri. Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur menjadi pilihannya” kata Ibunya, Darmita.

Istri dari Ahmad Sufianto ini menyampaikan, sebagai orang tua saya sangat bangga diselimuti rasa cemas, bangga karena Alya lebih memilih pesantren sebagai tempat mengenyam pendidikan, cemas karena Alya masih terlalu kecil untuk menimba ilmu di pesantren.

“Saya sebagai orang tua bangga dan senang sekali mempunyai anak yang memilih pesantren sebagai tempat menimba ilmu,” tuturnya.

“Namun masih ada rasa cemas dan khawatir melepas dia (Alya) belajar di pesantren karena terlalu kecil,” imbuhnya.

Darmita melanjutkan,sebagai orang tua, saya bersyukur pada Allah karena Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi pilihan Alya bukan pondok yang lain.

Menurutnya, Pondok Pesantren Nurul Jadid merupakan salah satu pondok yang memiliki alumni yang sangat hebat, terlebih alumni yang ada di Batam. Para alumni Pesantren ini banyak menjadi pengabdi, pengayom masyarakat mulai sebagai pendidik, da’i, politisi dan banyak berkiprah di berbagai bidang.

“Meskipun saya seorang pekerja rumah tangga (PRT) dan suami saya seorang kuli bangunan. Saya bertekad untuk menyekolahkan anak saya di Pesantren Nurul Jadid,” ucap Ibu Darmita.

Pasalnya, di luar pesantren pergaulan saat ini mengkhawatirkan. Banyak anak-anak yang telah melakukan pergaulan bebas, putus sekolah, minum-minuman keras, dan melakukan tindakan amoral lainnya.

Baginya pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang mampu menyelamatkan anak-anak dari pergaulan bebas.

Reporter : MH | Editor : Gerardin Ferari

Pos terkait