Webinar Nasional: Urgensi Impor di Tengah Melemahnya Produktivitas Garam Lokal

Webinar Nasional: Urgensi Impor di Tengah Melemahnya Produktivitas Garam Lokal

Sumenep, KoranIndonesia.co – Keputusan pemerintah (Kemenperin) terkait kebijakan impor garam disikapi secara beragam, bahkan ada pula yang resistens atas kebijakan tersebut dengan argumen bahwa kebijakan impor garam 3 juta ton berpotensi berlebihan dan akhirnya malah masuk ke pasar garam rakya. Akibatnya garam lokal kian tertindas. Padahal jika dicermati secara objektif, kebijakan impor garam memiliki alasan yang fundamental bahkan kebijakan tersebut adalah keniscayaan di tengah melemahnya produktivitas garam lokal serta meningkatnya kebutuhan garam nasional.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Komite Pemuda Madura (KOPMA), Hasin Abdullah dalam keterangan tertulisnya Kamis (1/7/21) mengatakan bahwa kebijakan impor menjadi sesuatu yang tidak terelakkan jika melihat kebutuhan garam secara nasional yang mencapai 4,6 juta ton. “Untuk memenuhi kebutuhan dan keterbatasan garam nasional, maka kebijakan impor menjadi keniscayaan yang tidak terelakkan. Faktanya, kebutuhan garam secara nasional tahun ini mencapai 4,6 juta ton, sedangkan impor garam sebanyak 3,07 juta ton,” paparnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, selain untuk memenuhi kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,6 juta ton. Hal tesebut disebabkan karena produk lokal belum bisa memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sehingga impor menjadi keniscayaan yang tidak bisa dihindari. “Dalam konteks menyikapi melemahnya produktivitas garam lokal yang tidak mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri maka keputusan impor menjadi opsi terbaik. Karena itu, kedepan harus ada upaya transpormasi produksi garam lokal sehingga mampu menampilkan produk garam yang konsisten sesuai dengan kebutuhan industri dalam negeri,” ujar Hasin.

Webinar Nasional: Urgensi Impor di Tengah Melemahnya Produktivitas Garam Lokal

Hasin juga menegaskan, bahwa jika mencermati aspek kualitas, produksi garam lokal memang perlu strategi meningkatkan produksi sebagai upaya mendorong pemenuhan garam industri di Tanah Air. Karena sejauh ini garam lokal masih perlu peningkatan dalam segi aspek kuantitas, kualitas, kontinuitas pasokan dan kepastian harga.

“Ketika produktivitas garam lokal melemah, maka konsekuensinya tidak mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sehingga pemerintah memutuskan impor. Faktanya, jika melihat kondisi ril di lapangan bahwa model produksi garam kita yang masih menggunakan cara pertanian dan manual menjadi salah satu faktor. Sementara garam impor dihasilkan melalui proses mekanisasi yaitu industrialisasi yang mana ladang garam besar menggunakan alat mekanis dengan masa panen lebih panjang dan kualitasnya lebih konsisten. Itulah sebabnya, impor tidak bisa dihindari,” pungkasnya.

Lebih lanjut alumnus UIN Syarif Hidayatullah tersebut menegaskan bahwa dalam menyikapi beragam perspektif terkait kebijakan impor garam, Komite Pemuda Madura (KOPMA) menggelar webinar nasional dengan mengusung tajuk “Urgensi Impor di Tengah Melemahnya Produktivitas Garam Lokal” yang akan dilaksanaka secara virtual daring pada hari Jum’at tanggal 02 Juli 2021, Jam 14.30 WIB – selesai, dengan menghadirkan pembicara, Moch. Eksan (Direktur Eksan Institute & Mantan Anggota DPRD Jawa Timur), Sudahri (Mantan Konsultan GCC PT Garam), dan Salim Segav (Aktivis Pembela Petani Garam Madura – PPGM), serta moderator yang memandu jalannya diskusi virtual adalah Mochammad Thoha (Kornas Perhimpunan Generasi Millenial Indonesia – PGMI).

Reporter : Muhlis Arifin | Editor : Gerardin Ferari

Pos terkait