Mengenal Lebih Dekat Sosok Bupati Pamekasan, Salah Satunya Tak Berjarak dengan Masyarakat

Mengenal Lebih Dekat Sosok Bupati Pamekasan, Salah Satunya Tak Berjarak dengan Masyarakat
Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam saat berpelukan dengan masyarakat.

Pamekasan, KoranIndonesia.co – Bupati Pamekasan, Madura, Jawa Timur H Baddrut Tamam merupakan pemimpin muda di Kabupaten Pamekasan. Selain muda, ia mempunyai karakter visioner dan dikenal dengan sosok yang tidak berjarak dengan masyarakatnya.

Bahkan, ia tidak canggung memeluk rakyatnya setiap kali turun ke bawah. Bupati yang akrab disapa Mas Tamam tersebut selalu memberikan perhatian penuh kepada masyarakatnya, dengan cara tegur sapa secara hangat tanpa ada jarak, memeluk rakyatnya, mencium tangan orang sepuh, bahkan bisa dipastikan orang nomor satu di Pamekasan ini memberikan uang kepada orang-orang yang dianggap kurang mampu setiap kali turun ke lapangan.

Bacaan Lainnya

Kebiasaan baik dan sikap rendah hati ini nyaris tak ditemukan di kalangan pejabat publik. Apalagi kebiasaan mencium tangan rakyatnya sendiri. “Karena untuk menjadi terhormat itu harus bisa menghormati orang lain. Jangan karena ingin terhormat kemudian menginjak kehormatan orang lain,” kata Mas Tamam, Sabtu, 23 Oktober 2021.

Bukti terbaru kedekatan bupati dengan rakyatnya saat duduk lesehan bersama para santri saat perayaan hari santri nasional di pondok pesantren Sumber Anom, Desa Angsanah Kecamatan Palengaan beberapa waktu lalu. Kemudian, tokoh muda Nahdlatul Ulama ini juga makan nasi bungkus bersama dengan para pekerja proyek ketika memantau pekerjaan jalan dari Kecamatan Pegantenan menuju Kecamatan Batumarmar, Kamis tanggal 21 Oktober kemarin.

Bupati dengan sederet prestasi ini mengatakan, bupati tersebut hanya jabatan sementara yang tidak bisa dibanggakan. Makanya, posisi bupati semata-mata akan ia gunakan untuk kepentingan masyarakat.

“Bupati itu bukan tujuan, tetapi alat pengabdian untuk masyarakat. Karena bupati itu dalam bahasa Maduranya songot pasangan (kumis palsu, red), yang bisa dibuka setiap lima tahun,” tandasnya.

Selain itu, bupati yang masuk bursa tokoh layak memimpin Jawa Timur tersebut selalu menjadi objek foto bersama masyarakatnya. Terutama ketika blusukan melihat kondisi masyarakatnya di bawah. “Kalau bupati hanya menjadi tujuan, ya sudah selesai, tidak harus bekerja apa-apa untuk kepentingan masyarakat. Makanya bagi saya, jabatan bupati ini hanya alat pengabdian,” sampainya dia.

Reporter : Adv/SD | Editor : MA

Pos terkait