Prof Asep Saepudin Jahar; Polisi Tembak Polisi Itu Ujian untuk Perbaiki Citra Polri

Prof Asep Saepudin Jahar; Polisi Tembak Polisi Itu Ujian untuk Perbaiki Citra Polri

Jakarta, Koran Indonesia – Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Asep Saepudin Jahar MA merespons kasus polisi tembak polisi yang menjadi sorotan publik. Peristiwa yang melibatkan petinggi POLRI ini adalah tanggung jawab krusial bagi institusi yang menjaga keamanan di kalangan masyarakat. Karena itu, kasus tersebut membutuhkan sikap tegas dan proporsional oleh Kapolri itu sendiri.

Dalam wawancara ekslusif koresponden media Koran Indonesia bersama Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Asep Saepudin Jahar MA berikut cuplikannya;

Bacaan Lainnya

Saat ini sedang gencarnya POLRI memperbaiki citranya sebagai polisi pengayom dan pelayan masyarakat. Bagaimana Prof Asep melihat profil polri saat ini?

Saya melihat POLRI saat ini sedang melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Pelayanan pengurusan surat-surat berkendaraan, proses penilangan dan juga perbaikan kepada SDM telah dilakukan perubahan. Dan, saya melihat ada beberapa hasil dari perbaikan itu. Seperti hasil survey Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (LEMKAPI) pada bulan Juni 2022 yaitu 84,6 % masyarakat puas dengan pelayanan polisi. hal ini bisa dijadikan indikator keberhasilan sekaligus juga memperbaiki yang lemah di POLRI.

Bagaimana Prof melihat kasus penembakan Brigadir Yosua yang sedang menjadi perhatian publik saat ini?

Pertama kasus ini tentu ujian penting bagi POLRI bagaimana citra polisi bisa dipertahankan dan ditingkatkan untuk lebih baik. Yang utama tentu karena ini melibatkan para polisi, dan korbannya pun polisi. Apalagi kasus ini terjadi di rumah dinas perwira tinggi. Tentu berbagai spekulasi akan bergulir. Namun saya melihat POLRI harus tetap profesional, transparan dan terbuka.

Menurut saya kasus seseorang atau beberapa orang di tubuh POLRI jangan sampai mengorbankan citra POLRI. Nama baik Lembaga POLRI harus tetap dijaga. Polisi sebagai pengayom masyarakat dan instrument negara untuk menjaga ketertiban masyarakat harus terus ditingkatkan.

Jika dihubungkan dengan konteks perbuatan atau tidakan pimpinan atau anggota baik di Lembaga negara atau non-negara apa yang dapat Prof sampaikan?

Sebagai akademisi dan pimpinan di lembaga pendidikan, bagi saya peran dan posisi kita dalam masyarakat itu adalah amanat. Apapun posisi kita. Kita jangan merasa bahwa sebagai Jendral lebih mulya dari pangkat yang lebih rendah. Demikian juga di perguruan tinggi misalnya profesor lebih utama dari dosen yang lebih rendah. Sudut pandang kehormatan atau kemulyaan diukur dengan status sosial itu sangat sederhana sekali. Ingat manusia itu tidak ada yang utama, kecuali kebaikannya (atau taqwa kalau dalam Bahasa agama). Tentu ketika kita mendapat amanat sebagai pimpinan itu anugrah, dan harus dilaksanakan sesuai aturan dan ketentuan.

Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah apapun. Karena negara kita sudah menyediakan berbagai fasilitas penyelesaian urusan. Jika ada dugaan atau konflik kepentingan, maka perlu diselesaikan dengan prosedur hukum. Tidak ada perbedaan antara pimpinan dan bawahan. Semua berada pada posisi, peran dan aturan. Justru amanat apapun perlu kita laksanakan dengan sebaik-baiknya sehingga bisa berkontribusi kepada masyarakat.

Jadi bagaimana harapan Prof terhadap POLRI ke depan?

Saya melihat polisi itu sangat penting peranannya di masyarakat. Maka itu sebagai Lembaga yang berwenang menjaga masyarakat perlu bekerjasama dengan masyarakat. Jangan berjarak. Karena masalah keamanan dan ketertiban masyarakat perlu bersama masyarakat. Disamping itu kedisiplinan, etika, karakter dan integritas POLRI perlu diperkuat dari waktu ke waktu. Tokoh polisi yang bersih, berwibawa dan penjaga masyarakat perlu dijadikan role figure terus bagi anggota POLRI. Dan, terakhir masyarakat juga ikut mengawal dan mengontrol POLRI supaya lebih baik lagi.

Reporter : Aldi Arief | Editor : Muhlis Arifin

Pos terkait