Pandemi Virus Corona Dan Indonesia Dalam Bayang-Bayang Krisis Ekonomi

  • Whatsapp

JAKARTA, koranindonesia.co-Kondisi ekonomi yang semakin hari semakin melemah terjadi di Indonesia sejak priode kedua baoak Jokowi menjabat sebagai Presiden, dan kondisi ini diperparah lagi dengan munculnya virus corona yang telah mengakibatkan terpuruknya kinerja perekonomian Indonesia. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diproyeksikan turun diangka 4,2-4,5 % dan dengan rasio hutang pada PDB sebesar 30,21%. (bps). Terpuruknya perekonomian nasional tersebut merupakan beban yang sangat berat bagi pemerintah, dunia usaha dan industri serta masyarakat.

Krisis yang diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar terlihat selama periode Januari dan ditambah lebih para lagi dengan mewabahnya virus corona yang tingkat penularanya semakin masif membuat Rupiah terjun bebas diangka 16.550 rupiah per dollar. Nilai tukar rupiah terhadap US dollar mengalami depresiasi yang tinggi dibandingkan dengan nilai tukar pada periode-priode sebelumnya, dampak melemahnya Rupiah telah meluas ke berbagai sektor kehidupan. sektor yang secara langsung dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar ini adalah kenaikan harga barang impor , baik barang jadi maupun bahan baku industri .

Secara umum, sepertiga dari bahan baku industri masih diimpor, ini menunjukan bahwa negara kita masih dalam posisi ketergantungan yang cukup tinggi, bagai mana tidak kita sebagai negara kepulauan yang panjang pantainya 100.000 Kilometer terpanjang nomer dua setelah kanada masih impor garam dari luar negeri. sebagai negara kepulan sangat naif itu tetjadi. Apalagi BBM dan manufaktur serta barang lainya masih mengandalkan bahan baku impor. Tingginya tingkat ketergantungan terhadap bahan baku impor menyebabkan kenaikan harga barang impor yang berlipat ganda dan berdampak sangat serius pada sektor produksi yang ada di Indonesia. Hal itulah yang tidak dapat mendorong terwujudnya economic self sufficiency (kemandirian ekonomi).

Krisis global sebelumya juga sudah di prediksi oleh Dr Doom atau Nouriel Roubini, Prediksi tersebut terdapat pada kajian yang ia tulis bersama Brunello Rosa berjudul The Makings of a 2020 Recession and Financial Crisis (Pembentukan resesi 2020 dan Krisis Keuangan). Dalam kajian tersebut, ia menyebutkan bahwa ekonomi dunia akan terlebih dahulu melakukan ekspansi pada 2019, seiring dengan kebijakan Amerika Serikat (AS) untuk menjalankan defisit anggaran secara masif. Hal tersebut yang membawa dampak lanjutan terhadap fluktuasi nilai tukar (currency). Ditambah lagi dengan mewabahnya virus covid-19 yang memperparah keadaan perekonomian global dan nasional.

Dalam pandangan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada hari Jumat (20/3). Beliau mengatakan Jika durasi COVID-19 lebih dari 3 sampai 6 bulan, kemudian lockdown, dan perdagangan internasional drop di bawah 30 persen, maka pertumbuhan ekonomi bisa di kisaran 2,5 persen bahkan 0 persen.

Dengan banyaknya indikator dan proyeksi yang sangat membahayakan kondisi perekonomian Indonesia, mestinya pemerintah lebih waspada dan hati-hati dalam mengambil kebijakan dibidang moneter dan ekonomi, pemerintah juga harus bersikap obyektif tanpa membedah-bedahkan mana yang pro kebijakan pemerintah dan tidak. sikap rendah hati dan megedepankan nasib bangsa harus lebih diutamakan. Disaat kondisi darurat seperti ini kami sarankan kepada pemerintah untuk segera mengumpulkan para ahli ekonomi dalam rangka bermusyawarah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi Indonesia kedepan, agar Indonesia bisa melalui dan keluar dari belenguh krisis ini. Prinsip gotong royong dan kebersamaan harus di contohkan oleh pemerintah, bukan hanya sekedar seruan belakang. hal ini dilakukan agar krisis legitimasi terhadap pemerintah bisa pulih kembali.

Penulis : Qomaruddin Alumni Pasca Sarjanah UI dan Kepalah Sekolah Penkaderan BMI

Pos terkait